Said Abdullah Ajak Guru Ngaji Perkuat Nilai Kebangsaan
- 23 Jun 2026 11:32 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur XI (Madura), MH Said Abdullah, menggandeng para guru ngaji dalam upaya memperkuat pemahaman kebangsaan. Penguatan pemahaman kebangsaan ini dilakukan melalui Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, De Baghraf Hotel Sumenep, Selasa, 23 Juni 2026.
Kegiatan yang diawali dengan istighasah untuk keselamatan bangsa itu diikuti guru ngaji dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep. Hadir sebagai narasumber Amir Syarifuddin dan Slamet Wahedi, sementara dua tenaga ahli MH Said Abdullah, Moh Fauzi dan Slamet Hidayat, turut mendampingi jalannya kegiatan.
Dalam pemaparannya, Amir Syarifuddin menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari lemahnya penghayatan nilai agama, fanatisme sempit, penegakan hukum, hingga dampak globalisasi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pemahaman agama yang utuh menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia.
“Pemahaman agama tidak cukup hanya melihat teks, tetapi juga harus memahami konteksnya. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat tidak mudah terjebak pada sikap yang dapat merusak persatuan,” ujar Amir.
Amir menilai guru ngaji memiliki posisi strategis untuk menyampaikan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan kebangsaan kepada masyarakat melalui kegiatan keagamaan di tingkat akar rumput.
Menurut Amir, masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk melihat persoalan secara utuh dan tidak mudah terjebak pada kecurigaan maupun informasi yang hanya menampilkan sisi permukaan.
“Yang tampak di luar belum tentu sama dengan yang terjadi di dalam. Karena itu penting bagi masyarakat untuk memahami persoalan secara lebih mendalam,” katanya.
Sementara itu, Slamet Wahedi menegaskan bahwa empat pilar kebangsaan tidak hanya menjadi konsep bernegara, tetapi harus diwujudkan dalam sikap sehari-hari masyarakat.
“Kalau ada kebijakan yang dianggap keliru, silakan dikritik dan dievaluasi. Itu hak warga negara. Tetapi jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita saling memusuhi, karena pada dasarnya kita tetap satu bangsa,” ucap Wahedi.
Ia menjelaskan bahwa semangat kebangsaan harus mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun pilihan politik.
“Kita boleh berbeda pandangan, termasuk dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Namun perbedaan itu tidak boleh menghilangkan rasa persaudaraan sebagai sesama warga bangsa,” katanya.
Selain menekankan pentingnya persatuan, Slamet juga mengingatkan bahwa demokrasi harus berjalan beriringan dengan pendidikan masyarakat dan komitmen untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Menurutnya, seluruh kebijakan pembangunan pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat sebagaimana amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Melalui sosialisasi tersebut, para peserta diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat wawasan kebangsaan di tengah berbagai tantangan sosial, budaya, dan perkembangan global yang terus berubah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....