Lembaga Penyiaran Harus Berijin, Menepis Kecemburuan Pengawasan

  • 01 Apr 2026 18:39 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Peran penyiaran dinilai semakin strategis dalam memperkuat ketahanan nasional di tengah derasnya arus informasi digital. Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif bersama Peneliti Pusat Kajian Komunikasi Publik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dengan tema “Penyiaran Cerdas, Bangsa Tangguh: Kolaborasi Penyiaran Mewujudkan Ketahanan Nasional”, di Program Indonesia Cerdas RRI, Rabu, 1 April 2026.

Dalam dialog tersebut, Surokim, Peneliti Pusat Kajian Komunikasi Publik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), menegaskan bahwa Lembaga penyiaran bisa diandalkan, karena terikat oleh aturan, namun yang memperihatikan ada ‘pemain baru’ yang berada diarena yang sama mereka bebas membuat konten dan penyebaran informasi yang hanya orientasi viral, emosional dan mengaduk-aduk opini. “Kita berada diposisi ini, semestinya ruang publik ini kita jaga bersama, agar mereka yang tidak berijin maupun yang proses berijin dan punya ruang menyebarkan konten bisa sadar diri, sehingga pengawasan tidak menimbulkan kecemburuan, yang patuh tidak putus asa, dan yang tidak berijin ini bisa bertanggungjawab menyebarkan kontennya,” katanya menjelaskan.

Cerdas tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kualitas konten yang mampu membentuk pola pikir masyarakat. Siaran yang edukatif, berimbang, dan berbasis fakta dinilai berperan penting dalam menciptakan masyarakat yang kritis sekaligus menjaga persatuan.

“Sebenarnya masyarakat kita ini punya pengalaman, artinya tidak harus edukasi formal, sebab masyarakat di didik oleh pengalaman, dan itu menjadi media literasi menentang hoax maupun fake news. Publik kita tidak ada yang melatih, tapi karena memiliki pengalaman itu akhirnya memiliki sensor deteks, terkait dengan informasi-informasi yang bisa dipertanggung jawabkan atau tidak, meski berada di kelas yang berbeda,” imbuhnya.

Berdasarkan kajian komunikasi publik, konten media memiliki pengaruh besar terhadap persepsi dan sikap sosial. Paparan informasi yang positif dan membangun dapat memperkuat solidaritas, sementara konten negatif atau menyesatkan berpotensi memicu konflik sosial.

Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem penyiaran yang sehat. Sinergi antara pemerintah, lembaga penyiaran, akademisi, serta masyarakat diperlukan agar tercipta konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan kebangsaan. Peningkatan literasi media masyarakat juga menjadi perhatian penting.

Penyiaran diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan tanggung jawab sosialnya. Dengan penyiaran yang cerdas dan kolaboratif, diharapkan dapat terwujud masyarakat yang tangguh, kritis, serta berdaya dalam menghadapi tantangan global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....