Pokak, Minuman Rempah Khas Madura yang Menghangatkan Tubuh dan Jiwa

  • 31 Jul 2026 16:53 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Di tengah gempuran minuman kekinian yang berjejer di kafe-kafe modern, ada satu minuman tradisional dari Pulau Madura yang tetap bertahan dan setia menghangatkan tubuh masyarakatnya dari generasi ke generasi, yaitu pokak. Minuman berbahan dasar rempah-rempah ini mungkin belum sepopuler wedang jahe atau bandrek di telinga masyarakat luar Madura, namun bagi warga setempat, pokak adalah bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Rasanya yang hangat, pedas, dan sedikit manis membuat pokak menjadi teman setia saat cuaca dingin, musim hujan, atau sekadar untuk menemani obrolan santai di sore hari.

Secara tampilan, pokak sering disamakan dengan wedang jahe atau bandrek karena sama-sama berwarna cokelat kemerahan dan disajikan dalam keadaan hangat. Namun, yang membedakan pokak dari minuman rempah lainnya adalah kombinasi bumbu yang digunakan, di mana jahe hanya menjadi salah satu dari sekian banyak rempah yang dicampurkan. Umumnya, pokak dibuat dari perpaduan jahe, serai, daun pandan, gula merah, dan berbagai rempah lain seperti cengkeh, kayu manis, atau kapulaga, tergantung pada resep turun-temurun masing-masing keluarga. Perpaduan rempah inilah yang menciptakan aroma khas yang begitu kuat dan menggugah selera begitu air rebusannya mulai mendidih.

Asal-usul nama pokak sendiri erat kaitannya dengan budaya masyarakat Madura yang dikenal gemar mengonsumsi minuman hangat berempah sebagai bagian dari tradisi menjaga stamina tubuh. Pulau Madura yang memiliki cuaca cenderung panas di siang hari namun bisa terasa dingin saat malam, terutama di wilayah pesisir dan pegunungan, membuat masyarakatnya terbiasa mengandalkan minuman hangat berbahan rempah untuk menghangatkan tubuh sekaligus menjaga kondisi fisik agar tetap prima dalam beraktivitas sehari-hari, terutama bagi para nelayan dan petani yang bekerja di luar ruangan.

Salah satu keunikan pokak yang membuatnya berbeda dari minuman rempah pada umumnya adalah penggunaan rempah dalam jumlah yang cukup banyak dan pekat, sehingga rasa yang dihasilkan jauh lebih tajam dan kompleks. Sensasi hangat dari jahe berpadu dengan aroma harum serai dan pandan, ditambah sedikit rasa manis dari gula merah, menciptakan cita rasa yang khas dan sulit ditiru oleh minuman rempah dari daerah lain. Tidak jarang, beberapa penjual pokak juga menambahkan potongan kayu secang untuk memberikan warna merah alami yang lebih pekat sekaligus menambah khasiat kesehatan pada minuman ini.

Selain rasanya yang nikmat, pokak juga dipercaya masyarakat Madura memiliki berbagai manfaat kesehatan berkat kandungan rempah-rempah alami di dalamnya. Jahe yang menjadi bahan utama dikenal luas dapat membantu meredakan masuk angin, mual, dan menghangatkan tubuh dari dalam. Sementara itu, kombinasi rempah lain seperti cengkeh dan kayu manis juga sering dikaitkan dengan manfaat membantu melancarkan peredaran darah serta meningkatkan daya tahan tubuh. Tak heran jika pokak sering menjadi minuman andalan masyarakat Madura ketika tubuh mulai terasa tidak enak badan atau saat musim pancaroba tiba.

Menariknya, pokak tidak hanya dinikmati sebagai minuman untuk kesehatan semata, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat Madura. Minuman ini kerap disajikan dalam berbagai acara kumpul keluarga, hajatan, hingga menjadi suguhan hangat bagi tamu yang berkunjung ke rumah. Di beberapa daerah, pokak bahkan dijajakan oleh pedagang keliling menggunakan gerobak atau pikulan pada malam hari, lengkap dengan suara khas ketukan yang menjadi penanda kedatangan mereka, mengundang warga sekitar untuk keluar rumah dan menikmati segelas pokak hangat sambil berbincang santai.

Meskipun keberadaannya mungkin belum sepopuler minuman modern lainnya, pokak tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Madura dan mulai menarik perhatian wisatawan yang penasaran dengan kekayaan kuliner tradisional Nusantara. Beberapa pelaku usaha kreatif bahkan mulai mengemas pokak dalam bentuk yang lebih modern, seperti kemasan botol atau serbuk instan, agar lebih mudah dinikmati dan dibawa sebagai oleh-oleh khas Madura. Upaya ini menjadi langkah penting untuk melestarikan warisan kuliner leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Pada akhirnya, pokak bukan sekadar minuman penghangat tubuh biasa, melainkan cerminan kearifan lokal masyarakat Madura dalam memanfaatkan kekayaan rempah alam sekitar untuk menjaga kesehatan dan mempererat kebersamaan. Di balik segelas pokak yang hangat, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, budaya, dan kearifan yang terus dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi siapa pun yang berkesempatan mengunjungi Madura, mencicipi segelas pokak hangat menjadi pengalaman kuliner yang sayang untuk dilewatkan. (RIA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....