Tradisi Kuliner Sakral: Tajin Sora, Penolak Bala di Bulan Muharram
- 16 Jun 2026 13:15 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, kembali menghidupkan tradisi tahunan pembuatan Tajin Sora (Bubur Asyura) setiap memasuki bulan Muharram. Bagi warga setempat, bulan Asyura atau Muharram sering kali dipandang sebagai bulan yang penuh tantangan atau bulan nahas.
Oleh karena itu, prosesi memasak bubur khusus ini bukan sekadar rutinitas kuliner, melainkan sebuah ritual yang sarat akan doa untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala bala.
Secara tampilan dan rasa, Tajin Sora khas Sumenep memiliki karakteristik yang sangat unik dan menggugah selera.
Bubur bertekstur lembut ini menyajikan perpaduan rasa gurih yang kaya berkat taburan berbagai macam topping. Di atasnya, tampak meriah dengan parutan kelapa muda, kacang tanah goreng yang renyah, irisan telur, serta kesegaran dari tauge mentah. Keistimewaan utamanya terletak pada siraman kuah santan merah kental yang gurih-pedas, lengkap dengan isian potongan daging sapi dan tahu krupuk ora' yang khas.
Pembagian Tajin Sora ini biasanya dilakukan setelah melalui proses doa bersama. Warga saling mengantarkan bubur ini ke tetangga kanan-kiri menggunakan wadah tradisional maupun piring.
"Tajin Sora ini bukan sekadar makanan, tapi adalah simbol doa yang mewujud dalam rasa. Di bulan yang dipercayai penuh rintangan ini, kami berkumpul, memasak bersama, lalu bersedekah kepada tetangga. Lewat seporsi bubur ini, kami mengetuk pintu langit, memohon agar Allah SWT senantiasa menjaga seluruh warga Sumenep dari segala marabahaya," ujar Ratna, seorang ibu rumah tangga di Sumenep, Selasa, 16 Juni 2026.
Tradisi saling berbagi ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk tolak bala secara spiritual, tetapi juga menjadi perekat tali silaturahmi dan cerminan rasa syukur masyarakat Madura atas rezeki yang telah mereka terima sepanjang tahun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....