Wedang Ronde, Kehangatan dalam Semangkuk Tradisi Nusantara

  • 26 Mar 2026 09:12 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Wedang ronde merupakan salah satu minuman tradisional yang menghadirkan kehangatan dalam setiap sajian. Minuman ini dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia, terutama saat cuaca dingin atau malam hari. Cita rasanya yang khas membuat wedang ronde tidak hanya sekadar minuman, tetapi juga bagian dari pengalaman budaya.

Wedang ronde berasal dari tradisi Tionghoa yang dikenal sebagai tangyuan, yaitu bola ketan yang disajikan dalam kuah hangat. Minuman ini kemudian mengalami proses akulturasi budaya di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah seperti Solo, Salatiga, dan Yogyakarta. Dalam perkembangannya, wedang ronde beradaptasi dengan penggunaan kuah jahe dan gula Jawa yang memberikan rasa khas Nusantara.

Nama “ronde” sendiri diyakini merupakan serapan dari bahasa Belanda, yakni “rond” yang berarti bulat. Hal ini merujuk pada bentuk bola-bola ketan yang menjadi ciri utama hidangan tersebut. Perpaduan pengaruh Tionghoa, Jawa, dan Belanda menjadikan wedang ronde sebagai simbol kekayaan budaya yang saling berbaur.

Keunikan wedang ronde terletak pada komposisi bahan dan cita rasanya. Bola-bola ronde yang terbuat dari tepung ketan biasanya diisi kacang manis yang lembut. Sajian ini kemudian disiram kuah jahe hangat yang menghadirkan sensasi pedas, manis, dan menenangkan.

Aroma jahe yang kuat menjadi ciri khas utama dari wedang ronde. Selain memberikan rasa hangat, jahe juga dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Minuman ini kerap dipilih untuk membantu menghangatkan badan serta memberikan rasa nyaman saat cuaca dingin.

Dalam perkembangannya, wedang ronde hadir dengan berbagai variasi isian dan pelengkap. Beberapa penjual menambahkan kacang tanah sangrai, roti tawar, atau kolang-kaling untuk memperkaya tekstur. Variasi ini membuat wedang ronde semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat.

Lebih dari sekadar minuman, wedang ronde memiliki nilai tradisi yang kuat di tengah kehidupan masyarakat. Kehadirannya sering dikaitkan dengan suasana kebersamaan dan kehangatan. Menikmati wedang ronde di malam hari menjadi momen sederhana yang sarat makna.

Dengan segala keistimewaannya, wedang ronde bukan hanya minuman penghangat tubuh, tetapi juga warisan budaya Nusantara yang berharga. Akulturasi yang terjadi di dalamnya mencerminkan keberagaman yang harmonis. Wedang ronde pun menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan dinikmati lintas generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....