Nasi Bu’uk, Warisan Kuliner Sumenep dengan Filosofi 'Kesederhanaan'
- 11 Feb 2026 12:53 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID Sumenep - Di balik sederhana bentuknya, nasi bu’uk menyimpan cerita panjang yang melekat dengan perjalanan hidup masyarakat Sumenep. Kuliner ini lahir dari masa sulit penjajahan Jepang pada 1942–1945, ketika banyak padi warga dirampas dan jagung menjadi sandaran utama untuk bertahan hidup. Dari jagung inilah muncul tiga bagian hasil gilingan beras jagung, bu’uk dan tompe yang masing-masing punya peran dalam dapur rakyat kala itu.
Di rumah-rumah pedesaan, bu’uk diolah dengan cara yang sabar dan penuh ketelatenan. Jagung yang sudah digiling dimasak perlahan dengan air hingga mengental menyerupai bubur padat. Tidak ada bumbu mewah, hanya rasa gurih alami jagung yang justru menjadi ciri khasnya.
Biasanya nasi bu’uk disantap bersama sayur kelor atau "ghengan maronggi", sayuran khas yang juga tumbuh dari keterbatasan zaman dulu. Kombinasi ini sederhana, tapi mengenyangkan dan bergizi, seperti diingatkan Tajul (58), salah satu penikmat nasi bu’uk yang masih setia dengan cita rasa tradisional ini.
"Dulu, menu ini bukan makanan istimewa, melainkan santapan sehari-hari banyak keluarga di Sumenep," ujarnya kepada RRI, Rabu, 12 Februari 2026. "Anak-anak tumbuh dengan nasi bu’uk, orang tua bekerja dengan energi darinya dan dapur-dapur kampung sangat akrab dengan aroma jagung yang dimasak perlahan."
Seiring waktu, suasana itu perlahan berubah. Makanan modern yang lebih praktis mulai menggantikan hidangan tradisional, membuat nasi bu’uk semakin jarang terlihat di meja makan. Generasi muda pun banyak yang tidak lagi mengenal cara membuatnya.
Halimah, salah satu penjual yang masih memahami kuliner ini, mengakui bahwa kini nasi bu’uk lebih sering muncul di acara tertentu atau di desa-desa yang masih menjaga tradisi. Proses pembuatannya yang rumit membuat tidak banyak orang mau melanjutkan, meski rasanya tetap punya penggemar tersendiri.
Meski keberadaannya makin terbatas, nasi bu’uk masih menyimpan nilai sejarah dan identitas budaya Sumenep. Beberapa komunitas dan keluarga terus berupaya menjaga tradisi ini agar tidak hilang begitu saja. Pada akhirnya, nasi bu’uk bukan sekadar makanan, tetapi potongan cerita tentang ketahanan, kebersahajaan dan kearifan lokal Madura — sederhana saja, tapi sarat makna. (Zal)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....