Respon Sensorik Sang "Picky Eater" secara Sains
- 12 Agt 2026 07:39 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Seberapa sering Anda mencap seseorang sebagai pemilih makanan yang menyebalkan? Padahal, kebiasaan makan tersebut sering kali merupakan respons adaptif yang sangat vital bagi tubuh.
Sekitar 15 hingga 20 persen warga Australia tercatat sebagai individu neurodivergent. Kondisi ini mencakup autisme, ADHD, disleksia, hingga dispraksia yang memengaruhi cara kerja otak, demikian dikutip dari laman Body and Soul.
Bagi mereka, waktu makan dapat memicu respons sensorik yang sangat intens dan melelahkan. Otak bahkan bisa mengartikan makanan tertentu sebagai ancaman nyata yang berbahaya.
Reaksi fisik involutif seperti refleks muntah, mual ekstrem, hingga panik sering muncul secara tiba-tiba. Hal ini jauh berbeda dari sekadar preferensi makanan yang biasa dialami orang pada umumnya.
Para ahli menegaskan sudah waktunya kita memensiunkan istilah pemilih makanan. Pola makan mereka justru disebut sebagai attuned eating yang sangat menghargai keselamatan tubuh.
Sistem interosepsi atau indra internal yang terlalu peka turut memengaruhi pola makan unik ini. Akibatnya, isyarat lapar alami menjadi sulit dikenali oleh tubuh mereka sendiri.
Kehadiran safe foods atau makanan aman sangat krusial untuk menurunkan kecemasan saat makan. Makanan prediktif ini memberikan rasa nyaman tanpa memicu stres berlebih di meja makan.
Orang tua diminta berhenti menggunakan aturan paksaan satu gigitan demi kesehatan anak. Tekanan psikologis justru berisiko mempersempit variasi makanan yang bisa mereka terima.
Pemenuhan nutrisi harian sebenarnya tetap bisa tercapai meski melalui ragam makanan yang terbatas. Kesehatan jangka panjang jauh lebih penting daripada variasi menu setiap harinya.
Jika waktu makan mulai terasa sangat melelahkan, segeralah berkonsultasi dengan profesional. Dukungan tenaga medis yang tepat akan membantu meringankan beban mental seluruh anggota keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....