"Popcorn Brain", saat Otak Terbiasa dengan Stimulasi Cepat

  • 21 Jul 2026 19:27 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, menonton video pendek tanpa henti, atau merasa gelisah ketika tidak memegang ponsel. Kebiasaan seperti ini mungkin terasa biasa bagi banyak orang. Namun, terlalu sering menerima rangsangan digital secara cepat dapat membuat otak terbiasa dengan pola stimulasi yang terus berganti. Fenomena ini dikenal dengan istilah popcorn brain.

Popcorn brain bukan diagnosis medis resmi. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika pikiran terbiasa berpindah dengan cepat dari satu hal ke hal lain, terutama akibat paparan berlebihan terhadap perangkat digital dan konten yang bergerak cepat. Mengutip laman McLean Hospital, penggunaan teknologi secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dan membuat pikiran terus mencari rangsangan baru.

Fenomena ini banyak dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi konten singkat secara berulang. Satu video selesai, pengguna langsung berpindah ke video berikutnya. Pola tersebut dapat membuat aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan, terasa lebih sulit dan membosankan.

Menurut American Academy of Pediatrics, penggunaan media digital perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setiap individu. Kualitas tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, serta waktu untuk melakukan aktivitas tanpa layar tetap perlu diperhatikan. Screen time yang berlebihan juga dapat mengurangi waktu untuk aktivitas lain yang penting bagi kesehatan fisik dan mental.

Beberapa tanda yang kerap dikaitkan dengan popcorn brain antara lain sulit fokus, mudah merasa bosan, sering berpindah aktivitas, serta dorongan untuk terus memeriksa ponsel. Namun, gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan tertentu. Kebiasaan dan kondisi setiap orang tetap perlu dilihat secara menyeluruh.

Mengurangi paparan layar dapat dimulai dari langkah sederhana. Pengguna bisa mematikan notifikasi yang tidak penting, menetapkan waktu tanpa ponsel, mengurangi kebiasaan membuka banyak aplikasi secara bersamaan, serta menyisihkan waktu untuk membaca atau melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama.

Di tengah kehidupan digital yang semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi hal yang perlu dijaga. Mengatur waktu penggunaan gawai dan memberi kesempatan bagi otak untuk fokus pada satu aktivitas dapat membantu membangun kembali kebiasaan berkonsentrasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....