Leg Day Berlebihan, saat Latihan Kaki Berubah Menjadi Ancaman bagi Kesehatan

  • 20 Jul 2026 14:50 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat, latihan kekuatan atau strength training semakin digemari masyarakat. Salah satu sesi yang paling menantang adalah leg day, yaitu latihan yang berfokus pada penguatan otot kaki. Meski dikenal mampu meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan daya tahan tubuh, latihan ini juga menyimpan risiko jika dilakukan secara berlebihan.

Banyak orang menganggap nyeri hebat setelah leg day sebagai tanda latihan berhasil. Padahal, rasa nyeri yang ekstrem bukan selalu pertanda perkembangan otot. Dalam kondisi tertentu dilansir dari American Academy of Orthopaedic Surgeons, latihan dengan intensitas terlalu tinggi justru dapat memicu rhabdomiolisis, yaitu kerusakan jaringan otot yang dapat berdampak serius pada kesehatan.

Rhabdomiolisis terjadi ketika sel-sel otot mengalami kerusakan berat sehingga melepaskan protein mioglobin dan berbagai zat lain ke dalam aliran darah. Jika kadarnya terlalu tinggi, mioglobin dapat membebani kerja ginjal dan meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal akut apabila tidak segera ditangani.

Risiko tersebut umumnya dialami oleh seseorang yang memaksakan diri berlatih di luar batas kemampuan tubuh. Kondisi ini kerap ditemukan pada pemula yang langsung mengangkat beban berat, berolahraga kembali setelah lama vakum, atau melakukan latihan dengan repetisi tinggi tanpa waktu pemulihan yang cukup. Kurangnya asupan cairan dan latihan di lingkungan bersuhu panas juga dapat memperbesar risiko terjadinya rhabdomiolisis.

Masyarakat perlu mengenali perbedaan antara nyeri otot biasa atau Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) dengan rhabdomiolisis. DOMS umumnya muncul 24 hingga 72 jam setelah latihan dan ditandai rasa pegal yang masih memungkinkan seseorang beraktivitas. Sebaliknya, rhabdomiolisis ditandai nyeri yang sangat hebat, pembengkakan pada otot, kelemahan hingga sulit berjalan, serta perubahan warna urine menjadi cokelat gelap menyerupai teh.

Apabila gejala tersebut muncul setelah menjalani latihan berat, pemeriksaan medis tidak boleh ditunda. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, terutama gangguan fungsi ginjal. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan kadar kreatin kinase (CK), fungsi ginjal, serta memberikan terapi cairan sesuai kondisi pasien.

Para ahli kebugaran mengingatkan bahwa keberhasilan latihan tidak diukur dari seberapa sakit otot setelah berolahraga, melainkan dari proses adaptasi tubuh yang berlangsung secara bertahap. Peningkatan beban latihan sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan fisik, disertai pemanasan, pendinginan, istirahat yang cukup, serta menjaga kebutuhan cairan tubuh.

Olahraga tetap menjadi investasi terbaik bagi kesehatan selama dilakukan dengan bijak. Mendengarkan sinyal tubuh, menghindari ambisi yang berlebihan, dan menerapkan prinsip latihan yang aman merupakan langkah sederhana untuk memperoleh manfaat maksimal tanpa harus menghadapi risiko cedera maupun gangguan kesehatan yang mengancam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....