Waspada Dampak "Cancel Culture", Bisa Picu Depresi dan Merusak Mental

  • 12 Jun 2026 03:24 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Fenomena cancel culture atau budaya memboikot seseorang secara massal di media sosial kini kian marak terjadi, terutama menyasar para tokoh masyarakat seperti selebritis, politisi, hingga tokoh terkenal lain yang dianggap melakukan tindakan tidak pantas. Berdasarkan ulasan medis di laman resmi Alodokter, praktik ini biasanya melibatkan pemutusan dukungan total terhadap figur yang bermasalah.

Secara psikologis, aksi pemboikotan ini dipicu oleh tiga tahapan proses dalam diri pelakunya, yang diawali dari kesadaran akan adanya hal negatif pada korban, munculnya luapan emosi seperti marah dan kesal yang kuat, hingga adanya dorongan emosional untuk menghukum atau menyakiti figur tersebut.

Meskipun kerap dipandang negatif, gerakan cancel culture sebenarnya memiliki sisi positif dalam mendorong perubahan sosial, seperti memerangi isu rasisme serta seksisme, sekaligus melatih masyarakat agar berpikir lebih matang sebelum bertindak. Idealnya, budaya ini menjadi media edukasi agar pelanggar memahami kesalahan mereka dan melakukan perbaikan diri di masa depan.

Namun, ulasan Alodokter menyoroti adanya pergeseran fungsi di mana fenomena ini belakangan justru kerap berubah menjadi sarana intimidasi atau cyberbullying massal yang melampaui batas wajar. Pergeseran ini berdampak fatal bagi kesehatan mental korban yang terancam mengalami pengucilan, isolasi, hingga risiko depresi berat dan bunuh diri.

Menariknya, dampak buruk ini tidak hanya mengintai korban, melainkan juga berbalik menyerang psikologis pelaku itu sendiri. Ketika target boikot justru melawan demi mempertahankan ego mereka, pelaku cancel culture rentan terjebak dalam rasa frustrasi yang mendalam, bahkan lambat laun empati mereka dapat mengikis karena terbiasa menolak memahami sudut pandang orang lain.

Tidak berhenti di situ, dampak psikologis dari fenomena ini ternyata ikut menular kepada masyarakat luas yang sekadar bertindak sebagai pengamat di media sosial. Terlalu sering menyaksikan aksi boikot massal di jagat maya dapat menumbuhkan kecemasan paranoid dan ketakutan konstan di kalangan netizen biasa.

Banyak pengamat yang akhirnya merasa cemas bahwa mereka akan dikucilkan oleh lingkungan sekitar, atau merasa takut jika kesalahan masa lalu mereka akan dibongkar dan digunakan sebagai senjata untuk menjatuhkan mereka di kemudian hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....