Toxic People! Ini Pandangan Menurut Islam dan Psikologi

  • 26 Mei 2026 10:49 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Manusia adalah makhluk sosial yang bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri. Manusia ada untuk memberi manfaat bagi sesama dan menjaga keseimbangan alam semesta. Kehadiran seseorang sudah sepatutnya menjadi sumber kebaikan, menghadirkan ketenangan, dukungan, dan energi positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Di tengah hubungan sosial, tidak semua interaksi membawa dampak yang sehat. Beberapa orang memiliki sikap, ucapan, dan perilaku yang disengaja maupun tidak disengaja justru melukai dan menguras energi bahkan menciptakan lingkungan yang tidak nyaman.

Dikutip dari Klikdokter, istilah toxic people merujuk pada orang beracun dengan banyak sifat negatif seperti mudah menghakimi, manipulatif, iri, selalu merasa benar, egois, serta bersikap dan berkata secara tidak konsisten. Memiliki urusan dengan orang toxic akan mengganggu dan menguras energi serta meracuni hidup Anda.

Ciri-ciri manusia toxic lainnya adalah suka menyebarkan keburukan dan fitnah, tidak menjaga lisan, serta memecah belah persaudaraan. Hal ini sangat berpengaruh dan dapat menggangu mental dan jiwa hingga gangguan bersifat fisik pada seseorang.

Dikutip dari laman UIN Alauddin, Islam sangat melarang perilaku toxic karena dapat merusak keharmonisan masyarakat dan menimbulkan dosa besar. Al-Qur’an dan hadis menegaskan pentingnya menjaga ucapan, mempererat ukhuwah, dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

Dampak manusia toxic sangat besar, baik bagi individu maupun masyarakat. Secara pribadi, keberadaan mereka dapat menyebabkan stres, hilangnya rasa percaya diri, bahkan melemahkan keimanan. Secara sosial, manusia toxic menimbulkan konflik, fitnah, dan hilangnya rasa saling percaya dalam kehidupan bermasyarakat.

Islam sejatinya telah menawarkan solusi terbaik untuk menghadapi orang yang toxic atau beracun. Sebaiknya setiap manusia itu agar dapat introspeksi diri (muhasabah), memperbaiki akhlak, menjaga lisan, serta memilih lingkungan dan pergaulan yang baik. Selain itu, umat Islam dianjurkan membangun hubungan sosial yang sehat, saling menasihati dalam kebaikan, dan menjauh dari perilaku yang merusak persatuan.

Dikutip dari laman University Hospitals, Dr. Runnels menekankan bahwa ketika menghadapi orang toxic, fokus utama seharusnya bukan mengubah orang tersebut, melainkan mengubah cara kita merespons situasi yang terjadi.

Kita sebagai manusia biasa tidak dapat mengubah perilaku orang toxic bahkan yang ada disekitar kita. Tetapi, manusia secara pribadi memiliki kendali atas cara merespons dan menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Dengan mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, membangun batasan yang jelas, mengurangi paparan hal-hal yang memperburuk stres, serta mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional jika diperlukan, seseorang lebis dapat melindungi dirinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....