Konsep ‘Attachment’ dalam Psikologi untuk Anak Korban "Bullying"

  • 24 Apr 2026 14:32 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Konsep attachment atau kelekatan merupakan teori dalam Psikologi Perkembangan yang menjelaskan hubungan emosional antara anak dan pengasuh utamanya. Ikatan ini terbentuk sejak usia dini dan sangat memengaruhi perkembangan kepribadian serta kesehatan mental anak.

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sumenep, Zamzami Sabiq Hamid, saat di program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Sumenep, Jumat, 24 April 2026, menyampaikan tiga aspek utama dalam pemulihkan psikologi anak korban bullying. Pertama yaitu keamanan emosional anak, mereka harus merasa dirinya didengar tanpa dihakimi.

Nah, orang tua harus juga belajar memiliki kemampuan mendengar, maksudnya adalah mendengar aktif, kita mendengar apa yang anak sampaikan, terima dia apa adanya," katanya menjelaskan. "Jangan justru kita menyalahkan anak, misalnya ucapan gara-gara kamu itu, mungkin karena kamu gak melawan, karena kamu cengeng, karena kamu, tidak, anak akan semakin terburuk ketika seperti itu, jadi biarkan anak mengekspresikan emosinya."

Zamzami melanjutkan, kedua adalah membangun kembali harga diri anak. Ketika anak menjadi korban bullying, dia merasa bahwa dirinya tidak berharga. Anak merasa persepsi dari teman-teman terhadap dirinya tertanam diotaknya, sehingga dia ‘kena mental’. Orang tua harus bisa memberikan afirmasi positif, ungkapan rasa bangga terhadap anak, fokus pada kelebihan-kelebihan anak, sehingga anak mulai muncul kembali harga dirinya.

Ketiga, setelah kita membangun harga diri anak, gak kalah pentingnya adalah bagaimana pemulihan sosial, ini mengacu kepada konsep social learning," ucapnya. "Jadi mereka perlu membatasi main dengan teman-teman yang mem-bully-nya, cari teman yang suportif."

Ia berpesan, orang tua jangan justru menjadi pelaku bullying ketika anak menjadi korban, tapi harus bisa mendekat ke guru atau pihak yang bertanggung jawab di sekolah. Komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah perlu terus dijalankan supaya terhindar dari budaya bullying yang berdampak buruk terhadap kehidupan anak.

Sedini mungkin orang tua harus mengajarkan kepada anak untuk care atau peduli terhadap perasaannya. Orang tua perlu menanyakan perasaan anak, bukan sekedar persoalan akademik tapi juga validasi emosi anak dan memahami perasaannya. Karena ketika anak merasa perasaannya dipahami orang lain, terutama oleh ayahnya, anak akan merasa ada regulasi emosi pada dirinya.

Konsep ini juga berkaitan erat dengan berbagai kondisi psikologis, anak dengan kelekatan tidak aman lebih rentan mengalami masalah seperti depresi dan gangguan kecemasan di kemudian hari. Dalam kehidupan sehari-hari, attachment berperan penting dalam membentuk kemampuan anak mengelola emosi, membangun hubungan sosial serta menghadapi stres. Oleh karena itu, peran orang tua dalam menciptakan hubungan yang hangat dan suportif menjadi kunci utama tumbuh kembang anak yang sehat secara emosional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....