Kenali Respon Psikologis Anak Korban "Bullying"!

  • 24 Apr 2026 12:51 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Dampak psikologis pada anak akibat bullying dinilai dapat memengaruhi perkembangan mental serta kehidupan sosial anak dalam jangka panjang. Karena bullying bagi anak bukan hanya luka fisik, namun juga meninggalkan luka ekologis jangka panjang yang bisa menghambat terhadap tumbuh kembang anak nantinya.

Hal ini disampaikan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sumenep, Zamzami Sabiq Hamid saat di program Indonesia Sehat RRI, Jumat, 24 April 2026. Ia menjelaskan anak yang mengalami bullying cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri. Mereka juga kerap merasa takut, cemas dan menarik diri dari lingkungan sosial.

“Yang repot juga kalau anak-anak itu sampai kepada memunculkan trauma, jadi traumatik-traumatik yang terus akan dia bawa sampai dia dewasa," katanya. "Ini yang harus kita waspadai secara bersama dampak buruk jangka panjangnya, terutama dalam kondisi psikisnya."

Menurut Zamzami, ada beberapa respon-respon psikologis terhadap anak yang menjadi korban. Pertama, muncul kecemasan atau ketakutan yang berlebihan pada diri anak. Jika biasanya anak percaya diri, maka tiba-tiba jadi penakut atau menangis tanpa alasan.

"Kedua, selain kecemasan, dia menurunkan rasa percaya dirinya, yang biasanya anak-anak ini aktif, dia pede untuk tampil, tiba-tiba dia takut," ucapnya menjelaskan. "Terus indikasi yang ketiga, yaitu dia menarik diri dari lingkungan sosialnya, biasanya dia bermain dengan teman-teman sebayanya, biasa bergaul, tiba-tiba tidak mau berkumpul dengan teman sebayanya."

Tekanan yang terus terjadi dapat memicu gangguan seperti depresi dan gangguan kecemasan. Bahkan dalam kasus tertentu, ada anak yang melukai dirinya, bahkan menganggap dirinya tidak berharga.

"Dia merasa bahwa teman-temannya memusuhi dirinya, sehingga masuk ke tataran yang lebih jauh, lebih berat terhadap kondisi psikologisnya," katanya.

Anak menjadi kesulitan dalam membangun hubungan sosial, anak merasa tidak percaya kepada orang lain karena pengalaman negatif yang dialami. Sehingga peran keluarga dan sekolah dalam memberikan dukungan sangat diharapkan. Pendampingan emosional dan komunikasi terbuka dinilai efektif membantu pemulihan kondisi anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....