Puasa Picu Autofagi, Perlambat Penuaan

  • 22 Feb 2026 17:10 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Pada 3 Oktober 2016 lalu, seorang ilmuwan Jepang bernama Yoshinori Ohsumi dianugerahi Nobel Prize in Physiology or Medicine atas keberhasilannya mengungkap mekanisme dasar autofagi.

Penghargaan tersebut diberikan berkat penelitiannya yang menjelaskan bagaimana sel mendaur ulang bagian-bagian yang rusak atau tidak lagi berfungsi demi mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Autofagi merupakan sistem alami tubuh untuk menjaga keseimbangan dan kualitas sel. Dalam penelitiannya menggunakan sel ragi, Ohsumi berhasil mengidentifikasi gen-gen kunci yang mengendalikan proses ini. Temuan tersebut menjadi fondasi penting dalam memahami bagaimana sel bertahan hidup dalam kondisi stres, termasuk saat kekurangan nutrisi.

Puasa diketahui sebagai salah satu pemicu aktifnya autofagi. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dalam beberapa jam, kadar insulin menurun dan cadangan energi mulai digunakan. Pada fase inilah sel memulai proses “pembersihan” internal dengan mendaur ulang komponen lama menjadi sumber energi baru.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa peningkatan autofagi berperan dalam menjaga kesehatan sel dan memperlambat proses penuaan. Dengan membersihkan akumulasi protein rusak dan organel yang tidak berfungsi, tubuh dapat mempertahankan kinerja sel lebih optimal seiring bertambahnya usia.

Selain dikaitkan dengan penuaan, autofagi juga dipelajari dalam hubungannya dengan berbagai penyakit, seperti gangguan saraf dan metabolisme. Para ilmuwan menilai bahwa keseimbangan proses ini sangat penting untuk menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa manfaat puasa tidak berarti dilakukan secara berlebihan.

Pola puasa yang aman dan terkontrol tetap menjadi kunci agar tubuh memperoleh manfaat tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Penemuan Ohsumi membuka wawasan baru bahwa puasa bukan sekadar praktik tradisi atau spiritual, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Aktivasi autofagi menjadi bukti bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk memperbaiki diri, sekaligus memberi harapan bagi riset kesehatan dan penuaan di masa depan. (RIA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....