Penipuan AI Kian Marak, Kenali Modus dan Teknik Psikologi yang Digunakan Pelaku

  • 22 Jun 2026 08:03 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep : Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Teknologi ini membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, AI juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menjalankan berbagai modus penipuan yang semakin sulit dideteksi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus penipuan berbasis AI menunjukkan tren peningkatan di berbagai negara. Pelaku memanfaatkan kemampuan AI untuk meniru suara, membuat video palsu, hingga menghasilkan pesan yang tampak meyakinkan. Tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, para penipu juga memanfaatkan teknik psikologi untuk memengaruhi emosi dan cara berpikir calon korban.

Salah satu modus yang banyak ditemukan adalah peniruan suara atau voice cloning. Dengan mengambil sampel suara dari media sosial atau rekaman percakapan, pelaku dapat membuat suara tiruan yang sangat mirip dengan suara asli seseorang. Korban biasanya menerima telepon dari seseorang yang terdengar seperti anggota keluarga atau teman dekat yang mengaku sedang mengalami keadaan darurat dan membutuhkan bantuan dana secepat mungkin.

Selain itu, terdapat pula penipuan menggunakan teknologi deepfake. Pelaku membuat video palsu yang menampilkan wajah tokoh terkenal, pejabat, pimpinan perusahaan, atau bahkan anggota keluarga korban. Video tersebut digunakan untuk meyakinkan korban agar melakukan transfer uang, mengikuti investasi tertentu, atau memberikan informasi pribadi yang sensitif.

AI juga dimanfaatkan untuk membuat pesan singkat, surat elektronik, dan percakapan digital yang terlihat profesional. Jika sebelumnya pesan penipuan mudah dikenali karena banyak kesalahan bahasa, kini AI mampu menghasilkan kalimat yang lebih rapi, sopan, dan sesuai dengan konteks sehingga tampak lebih kredibel.

Tidak sedikit pula pelaku yang menggunakan AI untuk membuat identitas palsu dalam penawaran investasi, pinjaman daring, hingga lowongan kerja fiktif. Foto profil, dokumen, bahkan riwayat pekerjaan dapat dibuat secara otomatis sehingga terlihat meyakinkan bagi calon korban.

Menurut Ach. Dafid, Kepala Pusat Hki Dan Publikasi Universitas Trunojoyo Madura di balik berbagai modus tersebut, para penipu sebenarnya mengandalkan sejumlah teknik psikologi yang telah lama digunakan dalam praktik manipulasi. "AI hanya membuat teknik tersebut menjadi lebih efektif dan sulit dikenali" ujarnya Senin, 22 Juni 2026

Teknik pertama adalah menciptakan rasa panik atau urgensi. Korban dibuat percaya bahwa mereka harus segera bertindak dalam hitungan menit. Misalnya, seseorang mengaku mengalami kecelakaan, rekening akan diblokir, atau ada kesempatan investasi yang segera berakhir. Dalam kondisi panik, kemampuan seseorang untuk berpikir kritis cenderung menurun sehingga lebih mudah mengikuti permintaan pelaku.

Teknik kedua adalah memanfaatkan kepercayaan. Pelaku sengaja menggunakan identitas orang yang dikenal korban, baik melalui suara, foto, maupun video palsu. Ketika korban merasa sedang berkomunikasi dengan orang yang dipercaya, tingkat kewaspadaan biasanya menurun.

Teknik ketiga adalah memainkan rasa takut. Korban diancam dengan konsekuensi tertentu jika tidak segera mengikuti instruksi. Ancaman bisa berupa masalah hukum, kehilangan rekening bank, pemblokiran akun, atau kerugian finansial lainnya. Rasa takut membuat korban lebih fokus pada ancaman daripada memeriksa kebenaran informasi.

Teknik berikutnya adalah memanfaatkan rasa serakah atau keinginan memperoleh keuntungan cepat. Penawaran investasi dengan imbal hasil tinggi, hadiah undian, maupun promosi khusus sering digunakan untuk menarik perhatian korban. Pelaku memahami bahwa harapan mendapatkan keuntungan besar dapat mengurangi sikap hati-hati seseorang.

Penipu juga sering menggunakan teknik yang dikenal sebagai social proof atau bukti sosial. Mereka menampilkan testimoni palsu, jumlah pengikut yang besar, atau video seolah-olah banyak orang telah berhasil mendapatkan keuntungan. Tujuannya adalah menciptakan kesan bahwa penawaran tersebut telah dipercaya oleh banyak orang.

Menurut pengamat keamanan digital, kombinasi antara kecanggihan AI dan manipulasi psikologis menjadi tantangan baru bagi masyarakat. Jika sebelumnya korban dapat mengenali penipuan melalui kualitas gambar, suara, atau bahasa yang buruk, kini tanda-tanda tersebut semakin sulit ditemukan.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung percaya pada setiap panggilan telepon, video, atau pesan yang meminta uang maupun data pribadi. Verifikasi melalui saluran komunikasi lain menjadi langkah penting untuk memastikan kebenaran informasi. Selain itu, pengguna media sosial perlu lebih berhati-hati dalam membagikan rekaman suara, foto, dan video pribadi yang berpotensi disalahgunakan oleh pelaku kejahatan.

Di era digital yang terus berkembang, kewaspadaan dan literasi digital menjadi benteng utama menghadapi berbagai bentuk penipuan berbasis AI. Semakin canggih teknologi yang digunakan pelaku, semakin penting pula kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis sebelum mengambil keputusan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....