Guru SMADA Raih Juara "Lomba Essay Hardiknas 2026"

  • 20 Mei 2026 18:28 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Guru Sosiologi SMA Negeri 2 (SMADA) Sumenep, Akh. Mardani berhasil meraih Juara II lomba essay tingkat Kabupaten Sumenep dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang digelar Cabdindik Jawa Timur Wilayah Kabupaten Sumenep. Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti keterlibatan aktif guru dalam mengembangkan budaya literasi dan pemikiran kritis di lingkungan pendidikan.

Lomba essay tersebut diikuti guru SMA negeri dan swasta hingga Sekolah Luar Biasa (SLB). Peserta diminta menulis essay bertema isu pendidikan sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan yang diangkat.

Dalam essay-nya, Akh. Mardani mengangkat keresahan mengenai fenomena guru yang dinilai hanya fokus mengajar tanpa benar-benar mendidik siswa secara mendalam. Ia menilai sistem pendidikan saat ini masih terlalu menitikberatkan pada pencapaian target akademik dibanding proses pembentukan karakter dan pemaknaan belajar siswa.

“Banyak di antara kita terjebak zona nyaman, hanya mengajar saja di kelas tanpa proses menumbuhkan potensi anak-anak,” ujar Akh. Mardani. Rabu, 20 Mei 2026

Ia menjelaskan siswa sering kali hanya dibebani tugas demi mengejar target kurikulum tanpa memahami manfaat dari proses belajar itu sendiri. Menurutnya, pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar kuantitas materi, tetapi juga kualitas pemahaman dan refleksi siswa.

“Anak-anak sibuk mengerjakan tugas, tetapi tidak ada kedalaman. Mereka tidak bisa memaknai apa yang mereka lakukan,” katanya.

Essay yang dibawanya semula berjudul “Mengajar Tanpa Mendidik”. Namun, setelah berdiskusi dengan rekan sejawat dan guru Bahasa Indonesia di sekolahnya, judul tersebut diubah menjadi “Mengajar yang Selesai, Mendidik yang Tertunda” agar lebih menyentuh secara sastra dan emosional.

Menurut Akh. Mardani, keberhasilan tersebut tidak lepas dari budaya kolaborasi antarguru di SMADA. Ia menyebut para guru di sekolahnya saling memberikan masukan, kritik dan dukungan dalam proses berkarya.

“Guru itu jangan hanya menyuruh siswa berkarya, tetapi gurunya juga harus memberi contoh. Kami ingin menunjukkan bahwa kami juga berkarya dan bertumbuh bersama anak-anak,” ungkapnya.

Selain aktif mengajar, Akh. Mardani juga dikenal aktif menulis di berbagai media sejak masa kuliah. Ia menyebut kebiasaan membaca menjadi kunci utama dalam membangun kemampuan menulis dan berpikir kritis.

“Penulis yang baik itu pembaca yang baik," katanya menegaskan. "Tidak mungkin bisa menulis kalau tidak banyak membaca."

Ia berharap prestasi tersebut dapat memotivasi guru maupun generasi muda untuk terus belajar. Selain itu membuka diri terhadap masukan dan mengembangkan berbagai keterampilan, baik menulis maupun public speaking, demi menghadapi tantangan masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....