Hari Buku Internasional: Sumenep Butuh Perpustakaan Alternatif

  • 24 Apr 2026 06:25 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Peringatan Hari Buku Internasional menjadi momentum refleksi terhadap kondisi literasi di daerah. Founder komunitas Toremaos Sumenep, Iva Misbah menilai minat baca masyarakat khususnya di Sumenep memiliki potensi besar, namun masih dihadapkan pada keterbatasan akses dan tantangan distraksi digital.

Iva mengungkapkan, jumlah perpustakaan di Sumenep terutama yang bersifat alternatif masih minim. Selama ini, akses bacaan lebih banyak tersedia melalui lembaga formal seperti perpustakaan kampus atau perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah.

“Karena itu kami mencoba membuka akses bacaan lebih dekat ke masyarakat melalui Lapak Baca di Taman Bunga yang kami gelar setiap minggu selama kurang lebih tiga tahun,” katanya dalam Dialog Sumenep Menyapa Kamis, 23 April 2026.

Menurutnya inisiatif tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan akses, tetapi juga menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat. Komunitas ini juga mendirikan perpustakaan fisik bernama Dapur Kultur di kawasan Kebunagung.

Antusiasme tinggi terlihat dari anak-anak usia dini hingga kelas 3 sekolah dasar yang aktif mengikuti kegiatan membaca, mendongeng hingga diskusi ringan tentang buku yang mereka baca. “Setiap bertemu anak-anak itu selalu menggembirakan," ujarnya. "Mereka sangat antusias terhadap buku, apalagi dengan aktivitas mendongeng atau bercakap tentang bacaan."

Namun, Iva mengakui antusiasme tersebut cenderung menurun seiring bertambahnya usia anak. Penggunaan gawai dan permainan digital menjadi salah satu faktor utama yang mengalihkan perhatian mereka dari buku.

“Di usia yang lebih besar, mulai ada distraksi dari HP, game dan sebagainya, ini usia yang krusial, kalau tidak ada pendampingan, minat baca bisa menurun bahkan hilang," ucapnya menjelaskan.

Iva menegaskan, potensi membangun budaya baca di Sumenep sebenarnya sangat besar jika dilihat dari ketertarikan anak-anak. Namun, dibutuhkan sistem pendukung yang kuat agar kebiasaan membaca dapat berkelanjutan. Dalam momentum Hari Buku Internasional setiap 23 April ini, Iva berharap ada kolaborasi lintas pihak, mulai dari keluarga, sekolah hingga pemerintah untuk memperkuat ekosistem literasi di daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....