Alasan Singapura Perketat Anak Wajib Nol Layar

  • 26 Agt 2025 17:48 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep : Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang serius dalam menjaga kualitas tumbuh kembang anak. Baru-baru ini, pemerintah mengumumkan pedoman baru terkait penggunaan perangkat digital yang lebih ketat dibanding sebelumnya. Fokus utamanya adalah melindungi balita dan anak-anak dari dampak negatif paparan layar berlebihan. Dalam pedoman terbaru, bayi hingga usia 18 bulan sama sekali tidak diperbolehkan terpapar layar, baik itu televisi, ponsel, tablet, maupun perangkat lain. Bahkan, orang tua diimbau untuk tidak menyalakan televisi sebagai latar belakang ketika bayi berada di ruangan yang sama.

Kebijakan ini berangkat dari temuan medis yang menunjukkan bahwa interaksi langsung antara bayi dengan orang tua jauh lebih penting dibanding stimulasi dari layar. Paparan gambar bergerak pada usia dini terbukti dapat mengganggu perkembangan bahasa, konsentrasi, dan kualitas tidur.

Selain kelompok bayi, Singapura juga menetapkan aturan khusus untuk anak usia lebih besar:

• 18 bulan–6 tahun: Waktu layar di luar kegiatan belajar dibatasi maksimal satu jam per hari. Orang tua diingatkan agar tidak memberikan perangkat saat makan maupun satu jam sebelum tidur.

• 7–12 tahun: Selain kebutuhan sekolah, anak-anak hanya diperbolehkan menggunakan layar maksimal dua jam sehari. Pengawasan orang tua terhadap akses internet dan media sosial juga sangat ditekankan.

Mulai Februari 2025, lembaga prasekolah yang beroperasi di bawah pengawasan Early Childhood Development Agency (ECDA) diwajibkan mematuhi pedoman ini. Untuk anak usia di bawah 18 bulan, perangkat digital dilarang digunakan sama sekali. Sementara untuk anak yang lebih besar, layar hanya boleh dipakai untuk tujuan pembelajaran, bukan hiburan.

ECDA akan memberikan masa transisi selama enam bulan bagi prasekolah untuk menyesuaikan diri. Jika setelah itu masih ditemukan pelanggaran, pemerintah tidak segan menjatuhkan sanksi regulatif.

Penelitian internasional menunjukkan bahwa paparan layar berlebihan dapat memicu berbagai masalah, mulai dari keterlambatan bicara, kurangnya interaksi sosial, obesitas, hingga gangguan tidur. Pada usia yang lebih besar, kecanduan gawai bahkan dikaitkan dengan risiko depresi dan kecemasan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....