Cara Otak Optimis dan Pesimis Bekerja
- 27 Jul 2025 20:01 WIB
- Sumenep
KBRN, Sumenep: Penelitian mutakhir dari Jepang mengungkap fakta menarik tentang hubungan antara pola pikir dan cara kerja otak manusia. Studi yang dipimpin oleh Kuniaki Yanagisawa dari Kobe University ini menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki pandangan optimis terhadap masa depan ternyata menunjukkan pola aktivitas otak yang hampir seragam.
Penelitian ini melibatkan 87 partisipan yang sebelumnya diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat optimisme mereka. Setelah itu, mereka menjalani pemindaian otak menggunakan teknologi MRI sambil diminta membayangkan berbagai kemungkinan masa depan, mulai dari yang menyenangkan seperti bepergian ke berbagai negara, hingga skenario negatif seperti kehilangan pekerjaan atau kematian.
Hasilnya menunjukkan bahwa para peserta yang memiliki tingkat optimisme tinggi memperlihatkan pola aktivitas otak yang lebih serupa, terutama di bagian korteks prefrontal medial (MPFC). Wilayah otak ini diketahui berperan penting dalam perencanaan masa depan
“Ini bukan berarti mereka memiliki pikiran yang sama persis, tetapi otak mereka bekerja dengan cara yang mirip saat membayangkan hal-hal baik di masa depan,” ujar Yanagisawa. Ia menambahkan bahwa kesamaan ini bisa jadi membuat para optimis lebih mudah terhubung secara emosional dengan orang lain, dan lebih sukses dalam hubungan sosial.
Sementara itu, peserta yang tergolong pesimis menunjukkan pola otak yang lebih beragam. Para peneliti menduga hal ini disebabkan oleh beragamnya kecemasan dan ketidakpastian yang menghantui mereka saat membayangkan masa depan. Pikiran-pikiran negatif tersebut membuat gambaran masa depan mereka lebih kompleks dan tidak seragam.
Ilustrasi menarik diangkat dari kutipan novel Anna Karenina karya Leo Tolstoy yang berbunyi, “Semua keluarga bahagia itu sama; setiap keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri.” Para ilmuwan menilai kutipan ini relevan untuk menjelaskan temuan mereka: optimisme menyatukan cara pandang, sementara pesimisme melahirkan beragam bentuk kekhawatiran.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa otak para optimis lebih tajam dalam membedakan antara skenario positif dan negatif. Kemampuan ini dianggap sebagai bentuk ketahanan psikologis dalam menghadapi tantangan hidup. Mereka mampu mengenali mana hal yang patut diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dihindari.
Lisa Bortolotti, profesor dari Birmingham University yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan bahwa hasil penelitian tersebut memperkuat pandangan bahwa optimisme bukanlah bentuk penyangkalan atau ilusi. “Optimisme bukan tentang menutup mata terhadap risiko, tapi tentang menanamkan keyakinan bahwa masa depan bisa dikendalikan dan ditata melalui usaha,” jelasnya.
Lebih jauh, Bortolotti menambahkan bahwa berpikir positif bisa menjadi alat yang memotivasi seseorang untuk bergerak maju, karena keyakinan pada hasil yang baik membuat seseorang lebih bersedia berupaya mencapainya.
Penemuan ini memberikan pandangan baru tentang bagaimana cara kita berpikir bisa membentuk struktur otak, serta bagaimana pola optimisme dapat berdampak pada kesehatan mental, hubungan sosial, dan ketangguhan dalam menjalani kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....