5 Profesi Ini Paling Tahan dari Gempuran AI

  • 25 Jul 2025 03:45 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kekhawatiran terhadap hilangnya peran manusia dalam dunia kerja makin meluas. Namun kabar baiknya, tidak semua profesi mudah digeser oleh teknologi.

Berdasarkan analisis konsultan bisnis asal Inggris, Eskimoz, sejumlah pekerjaan justru dinilai aman dari risiko otomatisasi. Mereka meneliti dua indikator utama, yakni tingkat interaksi manusia secara langsung dan kemungkinan profesi itu digantikan oleh AI.

Hasilnya, lima profesi berikut dinilai paling tahan terhadap serbuan teknologi:

1. Teknisi Medis Darurat

Interaksi langsung: 100%

Risiko digantikan AI: Hanya 7%

Profesi ini sangat mengandalkan respon cepat dan penilaian kondisi nyata di lapangan. Keputusan harus dibuat dalam hitungan detik, yang belum bisa ditiru oleh sistem otomatis.

2. Pekerja Sosial Kesehatan

Interaksi langsung: 100%

Risiko digantikan AI: 11%

Kemampuan untuk memahami kondisi emosional, sosial, dan psikologis seseorang membuat profesi ini bergantung pada empati dan kepekaan manusia yang tak tergantikan oleh algoritma.

3. Pengacara

Interaksi langsung: 100%

Risiko digantikan AI: 29%

Meski AI bisa membantu riset hukum, pengacara tetap dibutuhkan untuk menyusun strategi, negosiasi, dan menangani kasus dengan pendekatan manusiawi serta analisis mendalam terhadap konteks.

4. Manajer Layanan Medis dan Kesehatan

Interaksi langsung: 90%

Risiko digantikan AI: 26%

Mengelola sistem layanan kesehatan membutuhkan koordinasi manusia, pengambilan keputusan strategis, dan komunikasi yang intens dengan tenaga medis dan pasien. AI bisa membantu, tapi tidak bisa memimpin.

5. Supervisor Konstruksi dan Ekstraksi

Interaksi langsung: 79%

Risiko digantikan AI: 17%

Lapangan konstruksi memiliki banyak variabel dan risiko. Pengawasan langsung dan adaptasi terhadap kondisi dinamis tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh mesin.

Menurut analisis dari berbagai pakar, pekerjaan yang membutuhkan keputusan cepat, fleksibilitas, serta kecerdasan emosional, akan tetap memerlukan peran manusia. AI mungkin mampu mendukung pekerjaan-pekerjaan ini, namun belum mampu menggantikannya sepenuhnya.

Di tengah transformasi digital, para pekerja diimbau untuk terus meningkatkan keterampilan manusiawi, seperti empati, kepemimpinan, dan komunikasi — hal-hal yang masih menjadi keunggulan manusia dibandingkan mesin. Jadi, meski AI terus berkembang, profesi yang "berwajah manusia" tetap memiliki masa depan yang kuat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....