Sebelum Ada Makeup Modern, Bagaimana Perempuan Nusantara Mempercantik Diri?
- 07 Sep 2026 09:04 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Sebelum kosmetik modern hadir dalam berbagai bentuk seperti bedak, foundation, lipstik, dan maskara, perempuan Nusantara telah memiliki cara tersendiri untuk merawat dan mempercantik diri. Bahan-bahan yang digunakan berasal dari alam dan lingkungan sekitar, mulai dari tumbuhan, rempah-rempah, minyak alami, hingga bahan mineral.
Perawatan kecantikan pada masa lalu tidak hanya bertujuan memperindah penampilan. Kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kebersihan tubuh, tradisi keluarga, persiapan pernikahan, serta berbagai upacara adat. Pengetahuan mengenai bahan dan cara penggunaannya biasanya diwariskan dari orang tua kepada anak secara turun-temurun.
Salah satu bahan yang dikenal dalam perawatan tradisional adalah beras. Beras dapat diolah menjadi tepung dan digunakan sebagai bagian dari lulur atau perawatan tubuh. Bahan sederhana ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber pangan yang tersedia untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus perawatan diri. Kunyit juga menjadi bagian dari berbagai tradisi perawatan tubuh. Rimpang berwarna kuning tersebut digunakan sebagai bahan lulur atau campuran perawatan tradisional di sejumlah daerah. Selain kunyit, berbagai rempah dan tanaman lokal juga dimanfaatkan karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat.
Untuk rambut, minyak kelapa dan minyak kemiri telah lama dikenal dalam berbagai kebiasaan perawatan tradisional. Minyak tersebut digunakan untuk merawat rambut agar terasa lebih lembut dan terawat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa sebelum produk perawatan rambut modern tersedia luas, masyarakat telah memanfaatkan bahan alami di sekitarnya. Ada pula daun sirih, jeruk nipis, bunga melati, bunga mawar, daun pandan, dan berbagai rempah yang digunakan dalam praktik perawatan tradisional. Sebagian dimanfaatkan untuk campuran air mandi, memberikan aroma, atau menjadi bagian dari ritual perawatan tubuh. Penggunaannya berbeda-beda sesuai tradisi dan kebiasaan masing-masing daerah.
Dalam beberapa kebudayaan, inai atau daun pacar digunakan untuk memberikan warna pada kuku dan tangan. Penggunaan inai bahkan menjadi bagian dari tradisi menjelang pernikahan di sejumlah masyarakat. Dengan demikian, bahan kecantikan tidak hanya memiliki fungsi estetis, tetapi juga mempunyai nilai budaya dan simbolis. Bahan lain seperti pinang, arang, serta batu atau tanah yang memiliki warna alami juga dikenal dalam berbagai praktik budaya di sejumlah wilayah. Bahan-bahan tersebut dapat digunakan sebagai pewarna atau bagian dari riasan tradisional. Namun, penggunaannya tidak seragam dan sangat bergantung pada kebudayaan setempat.
Kecantikan tradisional juga mengenal berbagai jenis lulur yang dibuat dari campuran tepung beras, rempah, dan tanaman tertentu. Lulur digunakan sebagai bagian dari ritual perawatan tubuh, terutama dalam sejumlah tradisi menjelang acara penting. Praktik tersebut menunjukkan bahwa konsep merawat tubuh telah berkembang jauh sebelum industri kosmetik modern. Menariknya, standar kecantikan pada masa lalu tidak hanya ditentukan oleh wajah. Rambut yang tertata, pakaian, perhiasan, kebersihan tubuh, serta riasan adat menjadi bagian dari penampilan. Pada beberapa masyarakat, tata rias bahkan menunjukkan identitas, status sosial, usia, atau tahap kehidupan seseorang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....