Tumbuh di Hutan Indonesia, Harganya Bisa Capai Puluhan Juta per Kilogram

  • 25 Jun 2026 04:32 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Kayu gaharu dikenal sebagai salah satu hasil hutan bernilai ekonomi tinggi yang telah diperdagangkan selama ratusan tahun. Kayu ini bukan berasal dari jenis pohon khusus, melainkan terbentuk ketika pohon tertentu mengalami luka atau infeksi alami sehingga menghasilkan resin beraroma khas. Resin tersebut meresap ke dalam serat kayu dan menciptakan gubal gaharu yang sangat dihargai di berbagai negara.

Aroma harum yang dihasilkan gaharu menjadi alasan utama tingginya permintaan pasar. Sejak dahulu, gaharu digunakan sebagai bahan baku parfum, dupa, hingga berbagai keperluan ritual keagamaan. Di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah, aroma gaharu dianggap memiliki nilai spiritual dan simbol kemewahan sehingga permintaannya terus bertahan dari waktu ke waktu.

Tidak semua pohon mampu menghasilkan gaharu. Pohon dari kelompok Aquilaria dan Gyrinops merupakan jenis yang paling dikenal sebagai penghasil gaharu. Namun, hanya sebagian kecil pohon yang berhasil membentuk resin berkualitas tinggi. Proses pembentukannya juga membutuhkan waktu bertahun-tahun sehingga menjadikan gaharu sebagai komoditas langka.

Di Indonesia, pohon penghasil gaharu banyak ditemukan di kawasan hutan Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Potensi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penting dalam perdagangan gaharu dunia. Selain berasal dari alam, saat ini masyarakat juga mulai membudidayakan pohon gaharu melalui teknik inokulasi atau penyuntikan jamur untuk merangsang pembentukan resin.

Nilai ekonomi gaharu dapat mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah per kilogram, tergantung kualitasnya. Gaharu dengan kandungan resin tinggi memiliki warna lebih gelap dan aroma lebih kuat. Produk berkualitas premium biasanya diekspor ke berbagai negara untuk kebutuhan industri parfum dan wewangian.

Meski menjanjikan keuntungan besar, pemanfaatan gaharu juga menghadapi tantangan. Penebangan liar dan eksploitasi berlebihan pernah menyebabkan populasi beberapa jenis pohon penghasil gaharu menurun drastis. Karena itu, berbagai upaya konservasi dan budidaya terus dikembangkan agar pemanfaatannya tetap berkelanjutan.

Selain bernilai ekonomi, gaharu juga membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar hutan. Mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan kayu, hingga produksi minyak atsiri gaharu dapat menjadi sumber pendapatan baru. Dengan pengelolaan yang baik, gaharu tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak kelestarian lingkungan.

Ke depan, permintaan terhadap produk alami dan ramah lingkungan diperkirakan akan terus meningkat. Kondisi ini memberi peluang bagi industri gaharu Indonesia untuk berkembang lebih luas. Namun, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan upaya menjaga keberlangsungan sumber daya hutan yang menjadi asal komoditas bernilai tinggi tersebut.




Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....