RRI.CO.ID, Sumenep — Latihan malam perguruan seni bela diri Sinar Putih cabang Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, berlangsung rutin setiap bulan dalam tiga sesi. Sesi tersebut meliputi latihan antara murid dan pelatih, sesama senior, serta antar guru besar cabang.
Seni bela diri merupakan sistem latihan yang dirancang untuk melindungi diri, meningkatkan kebugaran, serta membentuk karakter dan mental seseorang. Praktik ini telah berkembang selama ratusan hingga ribuan tahun di berbagai belahan dunia dan menjadi bagian penting dari budaya serta identitas suatu bangsa.
Secara umum, seni bela diri diartikan sebagai teknik dan metode pertahanan diri yang terstruktur, melibatkan gerakan tubuh, strategi, serta pengendalian emosi. Berbeda dengan sekadar berkelahi, seni bela diri mengajarkan aturan, etika, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Salah seorang asisten pelatih Sinar Putih Unit Pondok Pesantren Annuqayah, Iskandar, menjelaskan bahwa perguruan ini lebih menekankan aspek pertahanan diri secara menyeluruh.
“Perguruan ini menekankan bela diri sebagai upaya menangkis berbagai serangan yang dapat membahayakan diri, baik secara fisik maupun nonfisik, termasuk penyakit dan sifat-sifat buruk. Tujuan utamanya adalah menjaga kesehatan jiwa dan raga,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Sementara itu, Ketua Cabang Pamekasan, Syarif Hidayatullah, berharap minat masyarakat terhadap seni bela diri terus meningkat, sekaligus menjaga kelestariannya sebagai bagian dari budaya bangsa.
“Seni bela diri harus terus berkembang sebagai warisan budaya tradisional yang mampu melatih mental serta menjaga kesehatan fisik,” katanya.
Lembaga Beladiri (LBD) Sinar Putih sendiri didirikan oleh KH. Mudhaffar Ash-Shiddiq di Bantul, Yogyakarta, pada tahun 1980, dan terus berkembang di berbagai daerah, termasuk Madura.