ketika Overthinking Mengambil Alih Pikiran
- 24 Jul 2026 15:06 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan satu kejadian yang sebenarnya telah berlalu? Atau merasa cemas terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi? Jika ya, bisa jadi Anda sedang mengalami overthinking. Kondisi ini mengacu pada kebiasaan berpikir secara berlebihan terhadap suatu masalah hingga memengaruhi emosi, konsentrasi, dan aktivitas sehari-hari. Meski sesekali memikirkan suatu keputusan merupakan hal yang wajar, berpikir berlebihan dalam waktu lama justru dapat menjadi beban bagi kesehatan mental.
Overthinking sering kali muncul karena keinginan untuk menghindari kesalahan atau mencari keputusan yang dianggap paling sempurna. Namun, alih-alih menemukan solusi, seseorang justru terjebak dalam lingkaran pikiran yang terus berulang. Misalnya, mengulang percakapan yang telah terjadi, mengkhawatirkan penilaian orang lain, atau membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Akibatnya, energi mental terkuras hanya untuk memikirkan hal-hal yang belum tentu berada dalam kendali.
Menurut American Psychological Association (APA), stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan mengelola emosi. Sementara itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan merenung secara berlebihan (rumination) juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, mengenali tanda-tanda overthinking sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.
Mengurangi overthinking tidak berarti berhenti berpikir, melainkan belajar mengelola pikiran secara lebih sehat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan yang berada di luar kendali. Selain itu, membatasi waktu untuk memikirkan suatu masalah, menuliskan isi pikiran dalam jurnal, berolahraga ringan, atau melakukan teknik relaksasi seperti latihan pernapasan dapat membantu mengurangi beban mental. Jika pikiran terasa terlalu penuh, berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat memberikan sudut pandang yang lebih objektif.
Di era digital, overthinking juga dapat dipicu oleh paparan informasi yang berlebihan. Arus berita yang datang tanpa henti, media sosial yang menampilkan pencapaian orang lain, hingga kebiasaan membandingkan diri dapat memperburuk kecemasan. Oleh karena itu, membatasi waktu penggunaan gawai dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari informasi digital merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.
Pada akhirnya, setiap orang tentu pernah merasa khawatir atau memikirkan suatu masalah. Namun, ketika pikiran mulai mengambil alih kehidupan sehari-hari, sudah saatnya kita memberi jeda. Menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan dan tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban merupakan bagian dari menjaga kesehatan mental. Dengan mengelola pikiran secara bijaksana, kita dapat menjalani hari dengan lebih tenang, fokus, dan produktif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....