Work Life Balance, Masih Mungkinkah?

  • 22 Jul 2026 13:54 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin dinamis, istilah work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin sering diperbincangkan. Kemajuan teknologi membuat batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat menjadi semakin tipis. Notifikasi pekerjaan yang datang di luar jam kerja, rapat daring yang dapat dilakukan dari mana saja, hingga kebiasaan memeriksa surat elektronik sebelum tidur menjadi gambaran yang semakin umum. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah work-life balance masih mungkin diwujudkan di era serba cepat seperti sekarang?

Konsep work-life balance bukan berarti membagi waktu secara sama rata antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan tidak hanya mencakup kondisi fisik, tetapi juga mental dan sosial. Artinya, seseorang perlu memiliki waktu yang cukup untuk bekerja secara produktif, beristirahat, menjalin hubungan dengan keluarga, serta melakukan aktivitas yang mendukung kesejahteraan dirinya. Keseimbangan inilah yang menjadi fondasi agar seseorang tetap sehat dan mampu menjalankan berbagai perannya dengan baik.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang menganggap bekerja lebih lama sebagai bentuk dedikasi. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jam kerja yang terlalu panjang justru dapat menurunkan produktivitas. Laporan bersama WHO dan International Labour Organization (ILO) pada 2021 mengungkapkan bahwa bekerja selama 55 jam atau lebih dalam seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit jantung dibandingkan jam kerja yang lebih wajar. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh lamanya bekerja, tetapi juga oleh kualitas waktu istirahat dan pemulihan.

Mewujudkan work-life balance sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Misalnya, menetapkan batas waktu bekerja, menghindari kebiasaan membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja apabila tidak bersifat mendesak, serta meluangkan waktu untuk berolahraga, berkumpul bersama keluarga, atau menikmati hobi. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi mampu membantu mengurangi stres sekaligus menjaga kesehatan mental. Selain itu, komunikasi yang baik dengan rekan kerja maupun atasan juga penting agar ekspektasi terhadap beban kerja dapat dipahami bersama.

Di sisi lain, perusahaan juga memiliki peran besar dalam menciptakan budaya kerja yang sehat. Lingkungan kerja yang menghargai waktu istirahat, memberikan fleksibilitas yang proporsional, serta mendukung kesejahteraan karyawan terbukti dapat meningkatkan motivasi dan loyalitas. Ketika karyawan merasa dihargai, mereka cenderung bekerja lebih fokus dan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Oleh karena itu, work-life balance bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari budaya organisasi.

Pada akhirnya, work-life balance bukanlah tentang bekerja lebih sedikit, melainkan bekerja dengan lebih bijaksana. Di tengah perkembangan teknologi dan meningkatnya tuntutan pekerjaan, menjaga keseimbangan hidup memang menjadi tantangan. Namun, dengan kemampuan mengatur prioritas, menetapkan batas yang sehat, serta didukung oleh lingkungan kerja yang positif, keseimbangan tersebut tetap dapat diwujudkan. Sebab, keberhasilan dalam karier akan terasa lebih bermakna ketika berjalan seiring dengan kesehatan, hubungan sosial yang baik, dan kualitas hidup yang tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....