Maharaya Festival 2026: Saat Jalan Raya Menjadi Panggung Tari
- 10 Jul 2026 20:40 WIB
- Sumenep
RRICO.ID, Sumenep - Bagi sebagian besar orang, jalan raya adalah ruang untuk berpindah. Di sana kendaraan berseliweran, aktivitas ekonomi berlangsung, dan kehidupan sehari-hari terus bergerak. Namun, bagi Maharaya Festival 2026, jalan raya menyimpan makna yang jauh lebih luas. Ia bukan sekadar ruang publik yang dilintasi, melainkan ruang kreatif yang mampu melahirkan sebuah karya seni.
Gagasan itulah yang menjadi napas utama Maharaya Festival 2026. Berbeda dengan pertunjukan tari di ruang terbuka yang selama ini umumnya memindahkan karya dari panggung konvensional ke jalan raya, festival ini justru mengajak para koreografer memulai proses kreatif dari karakter jalan itu sendiri.
Sejak tahap awal penciptaan, seluruh unsur koreografi dirancang dengan mempertimbangkan ruang publik sebagai panggung utama. Gerak tubuh penari, pola lantai, komposisi pertunjukan, arah hadap, hingga interaksi dengan penonton dibangun dari dialog dengan karakter jalan raya.
Salah satu inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis, mengatakan pendekatan tersebut lahir dari keinginan menghadirkan cara pandang baru dalam proses penciptaan tari.
"Selama ini banyak pertunjukan tari di jalan raya sebenarnya merupakan karya yang sebelumnya diciptakan untuk panggung konvensional, kemudian hanya dipindahkan ke ruang terbuka. Kami ingin membalik cara pandang itu. Jalan raya bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya, tetapi menjadi ruang yang sejak awal melahirkan ide dan bahasa artistik koreografi," ujar Khalis, Jumat, 10 Juli 2026.
Bagi Khalis, setiap ruang memiliki karakter yang akan memengaruhi cara seorang seniman berkarya. Ketika ruang pertunjukan berubah, proses kreatif pun seharusnya ikut berubah. Karena itu, jalan raya tidak diposisikan hanya sebagai latar pertunjukan, melainkan sebagai bagian yang membentuk identitas karya.
Menurutnya, karya yang lahir dari karakter jalan raya akan menawarkan pengalaman artistik yang berbeda dibandingkan karya yang diciptakan untuk panggung tertutup.
"Pilihan gerak, arah hadap penari, komposisi pertunjukan, bahkan cara penonton menikmati karya tentu akan berbeda. Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya," kata Khalis.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya memperkaya ekosistem seni pertunjukan. Jalan raya dipandang bukan lagi sebagai ruang yang sekadar menampung sebuah pertunjukan, tetapi sebagai unsur yang ikut menentukan bentuk, ritme, dan pengalaman artistik yang lahir dari sebuah karya.
Semangat itu juga tercermin dalam penyelenggaraan Maharaya Festival yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni. Selama tiga hari pelaksanaan, festival akan mempertemukan seni pertunjukan dengan ekonomi kreatif, pariwisata, aktivitas budaya, serta pemberdayaan masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kolaborasi tersebut diharapkan menjadikan festival sebagai ruang bersama bagi seniman dan masyarakat.
Lebih jauh, Khalis berharap Maharaya Festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi berkembang menjadi laboratorium kreativitas yang melahirkan gagasan-gagasan baru dalam dunia seni pertunjukan.
"Kami ingin Maharaya menjadi ruang lahirnya cara-cara baru dalam berkarya. Semoga festival ini dapat menginspirasi para seniman untuk terus bereksperimen, sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang berani menawarkan inovasi dalam dunia seni pertunjukan," tuturnya.
Mengusung tema "Gelombang dari Pesisir", Maharaya Festival 2026 akan digelar pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Festival ini menjadi bagian dari Sumenep Calendar of Event 2026 dengan melibatkan praktisi dan akademisi tari, komunitas dan sanggar seni, pelaku UMKM, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Melalui festival ini, jalan raya dipaknai lebih dari sekadar infrastruktur yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Ia menjadi ruang budaya yang menghubungkan kreativitas, masyarakat, dan identitas sebuah daerah. Dari jalan raya, sebuah tarian lahir; dari ruang publik, sebuah cara baru memandang seni mulai bertumbuh.
Versi ini memenuhi kaidah berita feature dengan pembuka yang naratif, alur yang mengalir, dan tiga kutipan langsung Nur Khalis yang ditempatkan sebagai penguat setiap bagian pembahasan, bukan dikumpulkan di akhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....