Filosofi Menara Masjid Perlu Dihidupkan Kembali untuk Perkuat Kepedulian

  • 07 Jul 2026 02:49 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Menara masjid tidak hanya dipandang sebagai elemen arsitektur atau penanda keberadaan rumah ibadah. Di balik bangunannya yang menjulang, tersimpan pesan tentang tanggung jawab sosial yang dinilai perlu kembali dihidupkan di tengah kehidupan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Agus Sugianto, S.Pd., dalam tulisannya berjudul "Membaca Ulang Filosofi Menara Masjid dalam Krisis Kepekaan Sosial", Senin 6 Juli 2026. Menurutnya, pada masa lalu menara dibangun sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan agar panggilan salat dapat menjangkau masyarakat. Namun, seiring perkembangan teknologi, fungsi tersebut telah banyak digantikan pengeras suara sehingga makna filosofis menara patut dimaknai kembali.

Agus menjelaskan, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk melihat kondisi di sekitarnya. Filosofi itu, menurutnya, tercermin pada menara masjid yang semestinya menjadi simbol kepekaan terhadap persoalan sosial, termasuk memperhatikan anak yatim, kaum dhuafa, janda, dan masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ma'un ayat 1–3 yang menegaskan bahwa agama tidak berhenti pada pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama. Nilai tersebut diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seseorang belum sempurna imannya hingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

Dalam tulisannya, Agus juga menyoroti kecenderungan sebagian masjid yang lebih mengedepankan pembangunan fisik dibandingkan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kemegahan bangunan tidak akan bermakna apabila tidak diiringi dengan kehadiran sosial yang nyata bagi lingkungan sekitar.

Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, masjid berfungsi sebagai pusat peradaban, tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat pendidikan, musyawarah, pengelolaan zakat, serta penyelesaian persoalan umat. Karena itu, fungsi sosial masjid dinilai perlu diperkuat kembali melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Agus mendorong pengurus masjid untuk mulai mendata kondisi sosial jamaah, mengelola zakat, infak, dan sedekah secara transparan, mengembangkan program pemberdayaan ekonomi dan pendidikan, serta menumbuhkan budaya empati di kalangan masyarakat. Ia juga mengutip Surah Al-Insan ayat 8 yang mengajarkan pentingnya berbagi kepada fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan.

Menurut Agus, ukuran keberhasilan sebuah masjid tidak hanya terlihat dari megahnya bangunan atau tingginya menara, tetapi juga dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitarnya. Filosofi menara, kata dia, akan menemukan makna sejatinya ketika mampu menginspirasi lahirnya kepedulian sosial yang nyata di tengah kehidupan umat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....