Persatuan yang Indah Berawal dari Perbedaan, Refleksi dari Sebuah Akad Nikah

  • 04 Jun 2026 06:13 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Di tengah kehidupan yang semakin mudah dipenuhi perbedaan pendapat dan pandangan, sebuah peristiwa sederhana di Desa Pagar Batu, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, menghadirkan pelajaran berharga tentang makna persatuan. Pada Selasa 2 Juni 2026, Darwis resmi mempersunting Izzy dalam suasana akad nikah yang khidmat dan penuh kebahagiaan.

Pernikahan tersebut menjadi gambaran bahwa persatuan tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kemampuan menerima dan merawat perbedaan. Darwis dan Izzy hadir sebagai dua pribadi yang berbeda, baik dari kebiasaan, cara berpikir, lingkungan tumbuh, maupun karakter masing-masing. Namun justru perbedaan itulah yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Fenomena ini diibaratkan seperti secangkir kopi yang nikmat. Rasa kopi tidak terbentuk dari satu unsur saja, melainkan perpaduan antara kopi, air, gula, bahkan susu yang memiliki karakter berbeda. Ketika dipadukan dalam takaran yang tepat, perbedaan tersebut menghasilkan cita rasa yang harmonis. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, persatuan bukanlah upaya menghapus perbedaan, melainkan mengelolanya menjadi kekuatan bersama.

Refleksi tersebut juga sejalan dengan semangat Hari Lahir Pancasila yang baru diperingati pada 1 Juni lalu. Indonesia berdiri di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, dan pandangan. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan fondasi untuk membangun tujuan bersama sebagai bangsa.

Dalam kehidupan rumah tangga, pelajaran tentang menerima perbedaan juga menjadi sangat nyata. Ketenteraman dalam keluarga tidak muncul karena pasangan memiliki kesamaan dalam segala hal, melainkan karena adanya proses saling memahami, menghargai, dan melengkapi satu sama lain. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan keluarga sebagai ruang untuk menumbuhkan kasih sayang dan kebaikan.

Pada akhirnya, pernikahan Darwis dan Izzy mengingatkan bahwa kedewasaan bukanlah kemampuan mengubah orang lain agar sama dengan diri kita, melainkan kemampuan hidup berdampingan dengan perbedaan. Baik dalam keluarga, lingkungan kerja, media sosial, maupun kehidupan berbangsa, persatuan yang kokoh selalu lahir dari kesediaan untuk saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Karena itu, setiap perbedaan sejatinya bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam. Sebab, seperti yang tergambar dalam akad nikah Darwis dan Izzy, setiap persatuan yang indah sering kali berawal dari sebuah perbedaan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....