Jejak Mushaf Al-quran Tulisan Sultan Abdurrahman di Musium Sumenep
- 27 Feb 2026 16:02 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Di balik sunyinya dinding Museum Keraton Sumenep, tersimpan sebuah pusaka yang melampaui sekadar benda sejarah. Di dalam kotak kaca yang terjaga, sebuah Mushaf Al-Qur’an berukuran 30 Cm ini yang ditulis 200 tahun silam itu membisu.
Namun menyimpan riwayat tentang ketajaman spiritual dan intelektual seorang penguasa legendaris di tanah Sumenep, Sultan Abdurrahman. Al-quran yang tersimpan di Musium ini ditulis Sultan Abdurrahman
Konon, setiap goresan tinta di atas kertas tersebut dilakukan dengan penuh khidmat tepat setelah beliau menunaikan Salat Tahajud. ”Bukan ditulis dalam semalam sebagaimana yang dimetoskan, tapi setiap malam usai shalat malam,” demikian Kata Tajul Arifin, Sejarawan Sumenep pada Jum’at, 27 Februari 2026.
Al-quran yang menjadi salah satu magnet wisatawan Musium Kraton ini, menjadi salah satu bukti sejarah mengenai Penguasa Sumenep yang alim, ulama, dan cinta pengetahuan. Yaitu, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat di tahun 1812-1854.
Bagi sang Adipati saat itu, kekuasaan bukanlah tentang kemegahan takhta semata. Al-Qur’an ini adalah saksi bisu bagaimana sang Sultan menghabiskan malam-malamnya.
Di saat rakyatnya terlelap, sang penguasa justru bersimpuh, mencelupkan kalam, dan menyalin ayat demi ayat. Ritme penulisan yang dilakukan di sepertiga malam ini memberikan aura tersendiri pada setiap lembarannya—sebuah manifestasi dari kerendahan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Sultan Abdurrahman bukanlah pemimpin biasa. Sejarah mencatat beliau sebagai sosok Polyglot yang luar biasa, mampu menguasai 17 bahasa asing, termasuk Arab, Belanda, hingga Sansekerta.
”Kejeniusannya ini diakui dunia; bahkan konon Thomas Stamford Raffles pun menaruh hormat pada kecerdasan sang Sultan,” kata Tajul.
Namun, di atas segala kecerdasan bahasa dan politiknya, Al-Qur’an tulis tangan ini menjadi bukti otentik bahwa fundamen utama kepemimpinannya adalah kealiman dalam ilmu agama. Baginya, menguasai dunia (bahasa) harus dibarengi dengan memegang teguh pedoman langit.
Hingga hari ini, mushaf tersebut menjadi daya tarik utama bagi pengunjung museum. Bukan hanya karena ukurannya yang impresif atau keindahan khatnya, melainkan karena "ruh" yang tertinggal di sana.
"Melihat Al-Qur’an ini seperti melihat sisi paling manusiawi sekaligus paling agung dari seorang Sultan. Ini bukan sekadar tulisan, ini adalah doa yang divisualisasikan. Ini menjadi bukti yang patut menjadi Inspirasi mengenai sosok pemimpin yang tidak hanya berfikir soal kekuasaan dan roda pemerintahan, tapi tentang kecintaan terhadap pengetahuan," ujar Abdussalam, salah satu pengunjung yang terpaku di depan etalase.
Wisatawan yang datang tak sekadar berfoto, mereka datang untuk menyerap inspirasi. Mushaf ini seolah berpesan: bahwa pemimpin yang paling kuat adalah ia yang mampu menundukkan egonya di atas sajadah, dan ia yang paling berilmu adalah ia yang tak pernah lepas dari tuntunan wahyu.