"Botol dan Kaleng Bernyanyi di Ladang Jagung Sumenep”

  • 11 Jan 2026 06:04 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Saat fajar mulai meninggi dan kabut pagi menghilang, di sudut ladang jagung milik warga Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, suara-suara unik mengisi hamparan kebun. Bukan nyanyian burung, bukan pula mesin pertanian, melainkan denting botol kaca dan gemerincing kaleng yang tertiup angin.

Itulah “musik” yang sengaja dibuat oleh petani setempat untuk menghadapi gangguan yang selama ini meresahkan hati mereka, yakni hama tikus dan tupai yang kerap memangsa tanaman jagung yang mulai berbuah.

Umam (47), seorang petani yang sudah puluhan tahun berkebun jagung, menuturkan ide sederhana itu muncul dari keprihatinan. “Awalnya kami mencoba obat pembasmi hama, tetapi tidak mempan. Justru tikus dan tupai makin bandel,” ujarnya, Minggu (11/1/2026), sambil menunjuk barisan botol dan kaleng yang tergantung rapi di antara tanaman jagung.

Cara tradisional itu dipilih setelah berbagai upaya lain gagal. Botol kaca bekas minuman dan kaleng yang tidak terpakai digantung pada tali di sepanjang barisan jagung. Tujuannya sederhana, yaitu menghasilkan bunyi berulang ketika angin berhembus sehingga dapat mengusir hewan-hewan pengganggu.

“Agar suaranya lebih terus-menerus, botolnya harus lebih dari satu,” kata Umam sambil terkekeh. “Kalau ada angin, bunyinya keluar sendiri, siang dan malam.”

Menurut Umam, suara gemerincing yang tercipta membuat tikus dan tupai gentar dan memilih menjauh. “Alhamdulillah, dengan cara ini serangan hama sedikit berkurang,” katanya sambil memperhatikan tanaman jagungnya yang mulai berbunga.

Serangan hama ini bukan hal sepele. Di ladang yang luasnya tidak mencapai setengah hektare itu, hampir setiap tongkol jagung yang sudah matang rusak digigit atau bahkan dipotong hingga jatuh ke tanah. Padahal, harapan panen banyak bergantung pada hasil jagung yang sehat dan utuh.

Awalnya, Umam dan para petani lain mengira hama hanya menyerang satu atau dua tanaman. Namun, setelah beberapa hari, mereka terkejut melihat hampir semua tanaman jagung yang berbuah menjadi sasaran.

Ide menggantung botol dan kaleng ini kini menjadi perbincangan di kalangan petani lain di wilayah tersebut. Bukan hanya sebagai alat pengusir hama, tetapi juga sebagai bukti bahwa solusi terkadang datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita.

“Saya sekarang juga mencobanya karena selain murah, cara itu bisa bertahan lama. Tidak seperti obat pembasmi hama yang hanya bertahan tiga hari,” cerita Ahmad, petani lainnya.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman hama yang kian cerdik, para petani Sumenep menunjukkan bahwa kreativitas lokal tetap relevan, mengubah botol kosong dan kaleng bekas menjadi “musik pelindung” bagi ladang jagung mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....