Perjalanan Ike: Dari Gudang Rokok ke "Caregiver"

  • 01 Des 2025 13:08 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Ike Nurjannah (32), perempuan asal Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi sosok yang cukup unik di daerahnya. Ia memberanikan diri menekuni profesi caregiver, sebuah pekerjaan yang masih jarang dikenal dan bahkan dianggap asing di Sumenep. Tanpa latar belakang pendidikan kesehatan, Ike menjadi perempuan pertama di wilayahnya yang memilih jalan ini.

Caregiver adalah profesi yang berfokus pada merawat lansia, orang sakit, atau penyandang disabilitas dalam kebutuhan harian mereka. Ike, seorang ibu dari dua anak, Naufal Ali Sufi (10) dan Kaiko Haura (2,5), mengakui bahwa pekerjaan ini menuntut lebih dari sekadar tenaga.

"Yang akan dilayani biasanya orang yang sedang sakit, jadi tubuh harus benar-benar siap," ujar Ike, Senin (1/12/2025).

Mayoritas pasien yang ia tangani adalah lansia, sehingga hampir seluruh aktivitas mereka membutuhkan pendampingan. Ia sering membantu pasien buang air kecil, buang air besar, hingga sekadar menemani mereka bercerita.

"Mayoritas mereka sudah sepuh, jadi semua aktivitasnya harus dibantu. Itu membuat saya harus sabar dan telaten," tambahnya.

Menariknya, kemampuan Ike bukan berasal dari pendidikan formal, melainkan hasil belajar otodidak selama bekerja. Sebelumnya, Ike adalah karyawan di gudang rokok selama sepuluh tahun sebelum memutuskan beralih profesi pada September 2025.

Dalam bekerja, Ike menggunakan sistem durasi waktu, mulai dari layanan empat jam hingga delapan jam sesuai kesepakatan dengan keluarga pasien. Ia mengatakan pekerjaan ini mempertemukannya dengan berbagai karakter keluarga, dari yang sangat perhatian hingga yang penuh dinamika.

Momen Mengharukan dan Pengalaman Personal

Di balik tuntutan fisik dan mental, Ike kerap menyaksikan momen-momen yang membuat hatinya tersentuh. Salah satu kisah yang tidak ia lupakan adalah ketika ia menjaga seorang ibu di rumah sakit. Setiap pagi, anak laki-laki pasien tersebut selalu datang hanya untuk berpamitan sebelum berangkat kerja.

"Aku senang melihatnya, karena perhatian seperti itu sekarang jarang. Jarang saya melihat, apalagi anak laki-laki mau rutin pamit seperti itu kepada ibunya." kata Ike.

Selain momen haru, Ike juga kerap mendengar cerita keluarga dari para lansia yang dirawatnya. Banyak dari mereka memiliki anak dengan karier sukses seperti dokter atau pegawai bank. Hal ini membuat Ike merasa bisa melihat dinamika keluarga dari sudut yang berbeda.

"Dari cerita para orang tua itu, saya jadi tahu karakter setiap keluarga. Apalagi banyak dari mereka punya anak yang sukses," tuturnya.

Tantangan dalam Profesi

Tidak hanya pengalaman manis, Ike juga menghadapi kendala. Salah satu tantangan terbesar adalah perbedaan instruksi antar anggota keluarga pasien. Pernah suatu kali, anak pertama pasien melarang pemberian jamu, sedangkan anak kedua justru meminta sebaliknya.

"Jadi saya bingung, karena aturannya beda-beda. Biasanya saya tanya langsung ke yang sakit, mau minum atau tidak," jelasnya.

Menurut Ike, bertanya langsung kepada pasien adalah cara paling adil agar tidak menyinggung salah satu pihak dalam keluarga.

Meski belum pernah mengalami kejadian buruk, Ike sering menemukan momen lucu. Baginya, situasi seperti itu membuat suasana lebih cair. Keluarga pasien juga sering menunjukkan perhatian kecil seperti membelikan makanan.

"Padahal semestinya mereka tidak perlu memberikan saya nasi, tapi kebanyakan peduli, membelikannya," ungkap dia.

Rasa Khawatir dan Motivasi Baru

Sebagai caregiver yang belajar secara mandiri, Ike mengaku sempat khawatir tidak memberikan perawatan maksimal. Namun kekhawatiran itu perlahan mereda berkat sikap keluarga pasien yang menerima dan menghargai kerjanya.

"Saya cukup sering mendengar ucapan terima kasih dari keluarga pasien. Itu membuat saya merasa dihargai," katanya.

Ucapan sederhana itu menjadi energi tambahan bagi Ike untuk tetap menjalani profesinya. Ada satu keyakinan yang selalu ia pegang.

"Saya percaya bahwa anak yang merawat orang tuanya yakin sukses," sebut Ike.

Keyakinan itu muncul dari banyaknya pasien yang memiliki anak-anak dengan karier cemerlang, menurut pengamatan Ike.

Perjalanan Karier dan Masa Depan

Ike mengenal profesi caregiver melalui seorang perempuan di Jakarta yang ia temui lewat media sosial. Dari perempuan itulah Ike mendapat gambaran utuh mengenai pekerjaan ini. Kini, dua temannya di Sumenep ikut terjun di bidang yang sama.

Meskipun demikian, ia belum berniat membentuk komunitas caregiver. Dengan kerendahan hati, Ike mengatakan bahwa ia masih ingin terus memperdalam kemampuan sebelum melangkah lebih jauh.

"Belum terpikirkan untuk membuat komunitas. Masih fokus terus belajar dulu," sebut Ike.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....