Hujan dan Air Mata Petani Tembakau

  • 24 Sep 2025 10:45 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Malam itu, Saniya (54) bersama tetangganya yang juga petani tembakau, mengelar tembakaunya diatas anyaman bambu. Sebagai bentuk persiapan menyongsong terik matahari di pagi hari.

Terdapat sekitar 40 'saksak' sebuah anyaman bambu yang memang selalu dijadikan untuk menjemur tembakau di Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Namun keesokan harinya, kamis (18/9/2025) matahari tidak kunjung bersinar. Bukan karena terlambat terbit dipagi hari. Namun mendung tidak ada hentinya menggelayut diarah timur. Sulit untuk pergi, dan kalaupun pergi mendung hitam lainnya datang silih berganti.

"Bahkan pukul 10.00 Wib, hujan mengguyur tembakau kami. Yang sudah dipastikan kualitas tembakau akan jelek,"katanya.

Bagi petani tembakau, berhasil tidaknya usaha tata niaga tembakau biasa ditentukan saat penjemuran. Jika kering sehari saat menjemur, maka kualitas nya akan bagus. Namun jika tidak kering sehari, baik akibat mendung atau hujan. Maka kualitas tembakau nya akan jelek.

"Selisih harganya bisa berkisar belasan hingga puluhan ribu per kilogram nya. Kalau bagus misalnya laku Rp 60.000 per kilogram, jika tidak kering sehari bisa laku kisaran Rp 25.000 per kilogram," ungkapnya.

Hasil jerih parayah petani becocok tanam tembakau selama 2,5 bulan titik akhirnya akan ditentukan saat penjemuran. Sebab jika tembakau tidak kering sehari warnanya akan kusam, tidak cerah, serta aromanya hilang.

“Kalau sudah tidak kering sehari, kami pasti rugi. Tidak hanya modal, namun fisik kami yang lelah akan semakin terasa,”tuturnya.

Koordinator penyuluh pertanian Sumenep, Dewo Ringgih mengaku tidak bisa berbuat banyak jika sudah berkaitan dengan cuaca. Karena Dinas sendiri juga tidak bisa mengendalikannya.

"Kalau cuaca saya angkat topi, namun demikian kita akan terus dorong agar semua pengusaha bisa membeli tembakau hasil petani tahun ini. Tentu harganya disesuaikan dengan kualitas," katanya singkat.

Pada tahun 2025, luas areal tembakau sebanyak 14.000 hektar. Data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep tahun ini luas areal berkurang dari tahun sebelumnya. Penyababnya karena sejumlah faktor, diantaranya kondisi cuaca.

Rekomendasi Berita