Bangkit dari Krisis, Kisah Sukses Telur Asin Bundis

  • 03 Jul 2026 14:25 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menjadi pukulan berat bagi perekonomian banyak keluarga, tidak terkecuali bagi Siti Nur Aisyah atau yang akrab disapa Bundis. Berawal dari keterpurukan ekonomi akibat pembatasan aktivitas di luar rumah, ibu rumah tangga asal Sumenep ini memutar otak untuk bertahan hidup. Sempat berganti-ganti usaha mulai dari menjual urukan hingga batu dan berujung gagal, Bundis akhirnya menemukan jalan keluar lewat usaha telur asin yang kini dikenal sebagai "Telur Asin Bundis".

Bundis menceritakan bahwa dirinya mengawali usaha tanpa latar belakang sebagai peternak atau pengusaha. Modal nekatnya dimulai dengan menetaskan 100 butir telur menggunakan inkubator dan belajar cara memproduksi telur berkualitas secara otodidak melalui YouTube. Melihat respons positif dari tetangga yang memiliki bisnis katering, ia menangkap peluang bisnis yang menjanjikan dan beralih membeli 500 ekor bebek untuk memulai produksi mandiri demi menjaga konsistensi kualitas.

“Awalnya saya coba menetaskan telur itu tiga. Dan ketiganya kebetulan betina semua, kemudian saya rawat hingga bertelur dan saya berpikir bagaimana jika saya tingkatkan ke seratus. Akhirnya saya beli seratus dan alhamdulillahnya ke seratus itu menetas semua,” katanya, Jumat 3 April 2026.

Kini, bisnis dapur rumah tersebut telah bermutasi menjadi jalur produksi massal yang mencakup tiga lokasi peternakan di Pamekasan dengan sistem bagi hasil (profit sharing) bersama warga setempat. Kualitas menjadi kunci utama bagi Bundis, telur asin buatannya dikenal berukuran besar, memiliki bagian kuning berwarna oranye pekat seperti Omega-3, dan tidak berbau amis. Berkat konsistensi tersebut, Telur Asin Bundis kini mampu memproduksi ribuan butir telur per hari dan berhasil menembus pasar modern hingga ke Ibu Kota Jakarta.

Namun, perjalanan ekspansi ke luar kota tidak selalu mulus karena Bundis sempat mengalami kerugian jutaan rupiah akibat kemasan telur yang pecah di awal pengiriman. Pengalaman berharga itu mengajarinya bahwa standardisasi pengemasan yang aman serta manajemen penyimpanan yang harus terhindar dari paparan sinar matahari langsung agar kualitas produk tidak rusak. Manajemen produksi juga diatur secara berkala dengan sistem rotasi panen dua hari sekali demi memastikan stok telur selalu siap memenuhi permintaan pasar.

“Karena telur inikan cangkangnya mudah pecah, jadi kita harus betul-betul save untuk pengiriman ke luar kota. Pengiriman pertama saya hampir rugu 9 jutaan, tapi saya tidak sedih karen sudah biasa dan sudah jatuh bangun dalam usaha ini,” ujarnya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran anaknya, Putri Nuril Mustafa, yang turut membantu mengelola manajemen keuangan dan operasional produksi. Nuril mengaku sangat mengagumi kegigihan sang ibu yang pantang menyerah menghadapi dinamika bisnis dan keterbatasan teknologi sebagai generasi terdahulu. Diakhir, Bundis memberikan pesan mendalam bagi para pelaku UMKM yang baru merintis bahwa kunci utama bisnis adalah kesabaran, kepercayaan, integritas, dan aksi nyata, karena motivasi tanpa aksi hanyalah halusinasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....