Topeng Kayu Semaan Bertahan Melawan Arus Zaman Modern

  • 29 Jun 2026 11:55 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep: Di tengah maraknya topeng berbahan kertas dan karet yang diproduksi secara massal, para perajin di Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, masih setia mempertahankan tradisi membuat topeng dari kayu. Seluruh proses dikerjakan secara manual, mulai dari memahat hingga tahap pewarnaan.

Moh Saleh menjadi salah satu perajin yang hingga kini tetap menggeluti profesi tersebut. Berkat ketelitian tangannya, topeng hasil pahatannya tidak hanya diminati masyarakat di desanya yang dikenal sebagai salah satu lumbung kesenian tari topeng, tetapi juga dipesan dari berbagai daerah di Jawa Timur.

"Kayu yang kami pakai adalah kayu pinus. Selain tidak mudah pecah, kayu ini juga lebih mudah diukir," ujar Moh Saleh, Senin 29 Juni 2026.

Setiap topeng dijual dengan harga sekitar Rp400 ribu. Harga tersebut sudah termasuk proses pengecatan dan pemasangan tali, sehingga pembeli dapat langsung menggunakannya.

Karena seluruh proses dikerjakan secara manual, pembuatan satu topeng membutuhkan waktu hingga empat hari. Lamanya pengerjaan disesuaikan dengan tingkat kerumitan karakter yang dipesan, seperti Arjuna, Prabu Klana, Bagong, Batarakala, maupun tokoh-tokoh lainnya dalam seni tari topeng.

Topeng kayu hasil pahatan pengrajin di Desa Semaan, Kecamatan Dasuk Sumenep (Foto; RRI/Ros)

Tak hanya bentuk, warna topeng juga memiliki makna tersendiri. Menurut Moh Saleh, pewarnaan disesuaikan dengan karakter tokoh yang diperankan.

"Warna juga disesuaikan dengan karakter tokohnya. Karakter yang pemarah biasanya berwarna merah, sedangkan tokoh yang penyabar menggunakan warna putih," katanya.

Hingga kini, pesanan topeng kayu buatan Moh Saleh datang dari berbagai daerah, di antaranya Surabaya, Banyuwangi, Ponorogo, serta sejumlah wilayah lain di Jawa Timur yang masih melestarikan kesenian tari topeng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....