Risol Kekinian, Strategi Imam Menembus Pasar Anak Muda
- 23 Jun 2026 06:53 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Perkembangan tren digital membawa peluang baru bagi pelaku usaha kuliner untuk berinovasi. Salah satunya dilakukan oleh Imam Nur Cholik Ashari, pemilik usaha Risol 354 yang memulai bisnis risol sejak tahun 2023 dengan mengandalkan kreativitas, dukungan keluarga, serta strategi pemasaran melalui media sosial.
Imam menceritakan, awal mula usaha tersebut sebenarnya digagas oleh sang istri. Sebelum memproduksi risol, istrinya sempat mencoba berbagai usaha lain, termasuk pangsit.
“Karena sekarang eranya digital, waktu itu di TikTok banyak yang ramai tentang risol. Istri saya coba membuat, kemudian dititipkan di warung-warung. Ternyata ada yang tertarik, akhirnya kami lanjutkan,” ujar Imam, Selasa, 23 Juni 2026.
Sebelum fokus mengembangkan usaha kuliner, Imam bekerja sebagai karyawan. Keputusan untuk berhenti bekerja dan membangun bisnis sendiri tidak mudah karena memiliki risiko yang berbeda. Namun, dukungan istri dan keluarga menjadi salah satu alasan dirinya berani mengambil langkah tersebut.
Menurut Imam, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah mengalami kondisi ketika stok produk tidak habis terjual sehingga harus mencari cara agar usaha tetap berjalan. Dukungan keluarga menjadi penyemangat untuk terus mencoba dan melakukan evaluasi.
Dalam mengembangkan produk, Risol 354 terus mengikuti perkembangan selera konsumen, khususnya generasi muda. Varian seperti cokelat dan mayo menjadi pilihan yang banyak diminati pelanggan, terutama kalangan anak muda yang menyukai makanan dengan cita rasa unik dan kekinian.
Imam menilai keberadaan media sosial memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan bisnisnya. Melalui platform digital seperti TikTok dan Instagram, ia dapat melihat tren yang sedang diminati masyarakat sekaligus memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan.
Dalam menghadapi tantangan usaha, Imam menyebut persoalan penjualan dan kenaikan harga bahan baku menjadi beberapa hal yang harus diperhatikan. Ia memilih menjaga kualitas produk jika terjadi kenaikan harga bahan baku.
Selain itu, Imam juga membagikan pengalamannya mengenai pentingnya mengelola modal secara bijak. Ia memulai usaha dengan modal sekitar seratus ribu rupiah untuk membeli bahan baku, kemudian hasil penjualan diputar kembali sebagai tambahan modal usaha.
Salah satu tantangan terbesar bagi anak muda yang ingin memulai usaha adalah rasa gengsi. Ia mengaku pernah merasakan hal tersebut ketika pertama kali berjualan. Namun, kebiasaan dan dukungan orang terdekat membuatnya mampu melewati rasa malu tersebut.
“Gengsi itu harus dilatih. Kalau sudah terbiasa dan melihat hasilnya, rasa gengsi akan hilang sendiri,” katanya.
Ia berharap anak muda tidak takut mencoba dunia usaha, tetapi tetap memahami strategi dan perhitungan sebelum memulai. Menurutnya, bisnis bukan hanya soal keberanian, tetapi juga membutuhkan perencanaan, pengelolaan keuangan, serta kemampuan membaca peluang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....