Petani Tembakau Harap Pengambilan Sampel Tidak Berlebihan
- 31 Jul 2026 11:08 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Memasuki masa panen tembakau, petani di Kabupaten berharap proses pembelian oleh gudang maupun perwakilan pabrikan dilakukan secara lebih adil. Salah satu aspirasi yang disampaikan agar pengambilan sampel atau poster saat proses pembelian tidak dilakukan secara berlebihan.
Selama ini, pengambilan sampel di sejumlah gudang maupun oleh perwakilan pabrikan kerap mencapai lebih dari satu kilogram untuk setiap bal tembakau. ”Itu sudah hampir seperti jadi kebiasaan bertahun-tahun. Ketika diambil sampelnya atau poster, tidak masuk timbangan. Diambil Gudang,” ungkap Mahmudi, salah seorang petani tembakau asal Lenteng, Sumenep, Jum’at 31 Juli 2026.
Kondisi tersebut, menurut dia, dinilai merugikan petani karena sampel yang diambil tidak ikut dihitung sebagai bagian dari pembelian. Sementara jumlahnya cukup besar jika diakumulasikan.
”Bayangkan, jika tiap bal (tembakau yang dibungkus dalam tikar, red) tidak diambil sampleknya. Bisa dihitung, berapa jumlahnya kalau banyak bal. Itu milik petani,” ujarnya kesal.
Petani berharap pengambilan sampel dilakukan secukupnya, hanya sebatas kebutuhan untuk mengetahui kualitas tembakau. Sehingga tidak mengurangi hasil yang seharusnya menjadi hak petani.
”Nah, ini juga perlu diatur oleh Pemkab bagaimana sampelnya itu tidak banyak, jangan dibiarkan bebas,” katanya.
Selain itu, petani juga meminta agar harga pembelian tembakau mampu memberikan keuntungan yang layak. Mereka berharap harga yang ditetapkan tidak hanya menutup biaya produksi, tetapi juga memberikan margin yang wajar sebagai hasil dari kerja keras selama satu musim tanam.
Petani juga menyoroti pentingnya penerapan Break Even Point (BEP) sebagai acuan dalam penentuan harga. ”BEP tidak boleh sekadar menjadi formalitas atau angka di atas kertas, melainkan benar-benar dijadikan patokan agar harga pembelian minimal mampu menutup seluruh biaya produksi yang telah dikeluarkan petani,” tambah Asmoni, petani tembakau asal Rubaru.
Dengan penerapan mekanisme pembelian yang lebih transparan, lanjut dia, pengambilan sampel yang proporsional, serta penetapan harga yang mengacu pada BEP secara nyata, petani berharap tercipta hubungan yang lebih adil antara petani, gudang, dan pabrikan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani tembakau sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
”Saya berharap, tata niaga tembakau tahun ini lebih berpihak kepada petani. Dinas tekhnis perlu mengawalnya,” ujar Asmoni.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....