Perjalanan Juma'atun dan Sudarmo: Dari Hidup Pas-pasan hingga Sukses Berjualan Apen

  • 28 Jan 2025 12:58 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Di sebuah sudut Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, setiap pukul 23.00 WIB, kesibukan mulai terlihat di rumah Juma'atun (44) dan Sudarmo (55). Sebuah tungku tanah liat dinyalakan, sementara wajan kecil berbahan serupa mulai dihangatkan. Adonan apen, kue tradisional berbahan dasar tepung, gula, dan kelapa, dituangkan dengan cermat hingga matang, lalu dikemas rapi untuk dijual.

Pasangan ini tak pernah menyangka, dari kesederhanaan sebuah wajan tanah liat, mereka mampu menciptakan penghasilan tetap yang membawa perubahan besar dalam hidup mereka.

Dua puluh tahun lalu, Sudarmo hanyalah pekerja serabutan. Ia mengerjakan apa saja, mulai dari menjadi kuli tambak garam hingga membantu memasang tenda hajatan. Namun, pendapatannya tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Namanya kerja serabutan, hasilnya tidak pasti. Kadang cukup, sering kali kurang," kenang Sudarmo, Selasa (28/1/2025).

Pak Sudarmo sedang mengupas kelapa di halaman rumah beliau dan disapa oleh pembeli apen keluarganya. (Foto: Dok. RRI Sumenep)

Di tengah keterbatasan, ide menjual apen datang dari Juma'atun, yang saat itu hanya seorang ibu rumah tangga. Bermodal kemampuan membuat apen, ia memutuskan menjualnya dari pintu ke pintu dengan berjalan kaki. Awalnya, tak mudah mendapatkan pembeli. Namun, kesabaran dan ketekunan membuahkan hasil.

Kini, Juma'atun dan Sudarmo tak perlu lagi berkeliling menjajakan apen. Mereka memiliki 25 pembeli tetap, sebagian besar adalah pedagang yang membeli untuk dijual kembali. Pembeli datang dari berbagai kecamatan seperti Lenteng, Gapura, hingga Manding. Bahkan, apen buatan mereka sudah merambah ke Pamekasan.

"Ada yang datang dini hari agar kebagian apen sesuai jumlah yang mereka pesan," ujar Juma'atun.

Ibu Juma'atun saat memasak apen jualannya. (Foto: Dok. RRI Sumenep)

Meski menggunakan bahan sederhana seperti apen pada umumnya, pembeli menyebut kualitas gula yang digunakan dan tekstur apennya menjadi pembeda.

Hasil dari berjualan apen selama dua dekade telah membawa pasangan ini pada banyak pencapaian, termasuk menunaikan ibadah umroh. Selain itu, pendapatan mereka kini juga dikembangkan untuk menyewa tambak garam.

"Kami sangat bersyukur. Dari apen ini, kami bisa mengubah hidup dan punya penghasilan tetap," ujar Juma'atun.

Meski telah mencapai kesuksesan, Juma'atun dan Sudarmo tetap rendah hati, mengingat masa-masa sulit yang pernah mereka alami. "Kuncinya adalah tekun dan sabar. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal," tutup Juma'atun dengan senyum hangat.

Kisah pasangan ini menjadi bukti bahwa ketekunan dan kerja keras mampu mengubah nasib, bahkan dari usaha yang sederhana sekalipun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....