Momentum Spiritual Sebelum Ramadhan malam Jumat terakhir
- 12 Feb 2026 20:12 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Langit sore di Sumenep perlahan meredup ketika langkah-langkah warga mulai menyusuri jalan menuju pemakaman keluarga. Di tangan mereka tergenggam kembhang bhabur, daun pandan, melati, dan bunga kenanga, yang harumnya menyatu dengan semilir angin. Tradisi nyekar menjelang Ramadhan kembali hidup, menjadi penanda bahwa bulan suci kian dekat.
Bagi masyarakat Sumenep, Madura, Kamis atau malam Jumat terakhir sebelum Ramadhan bukan sekadar pergantian hari. Momen itu adalah waktu untuk pulang, bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke akar sejarah keluarga.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, H. Eko, kamis sore 12 februari 2025 menuturkan bahwa tradisi ini selalu dinanti oleh warga.
| Baca juga: SDN Pabian IV Gelar Kirab Ramadhan |
“Biasanya kami datang bersama keluarga besar. Ini bukan hanya ziarah, tapi juga ajang silaturahmi dan mengingat kembali pesan-pesan leluhur,” ujarnya.
Di area pemakaman, keluarga membersihkan rumput liar dan merapikan pusara sebelum doa bersama dimulai. Doa dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh setempat, suasananya khusyuk dan penuh harap.
“Setelah makam dibersihkan, kami membaca doa bersama. Kami memohon kesehatan, keselamatan, rezeki, serta keberkahan untuk seluruh keluarga,” kata H. Eko.
Menurutnya, nyekar juga menjadi ruang berbagi cerita antaranggota keluarga. Anak-anak dan generasi muda dikenalkan pada sejarah keluarga serta nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.
“Di momen seperti ini, kami biasanya bercerita tentang perjuangan orang tua dulu. Harapannya, anak cucu tidak lupa asal-usul dan tetap menjaga nilai budaya serta agama,” tambahnya.
Tak jarang, ziarah dilanjutkan dengan pengajian singkat tentang pentingnya menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih. Bagi warga, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan tahunan, tetapi bagian dari persiapan spiritual.
“Nyekar ini seperti pengingat bahwa hidup hanya sementara. Jadi sebelum masuk Ramadhan, kita bersihkan hati dan perbaiki diri,” tuturnya.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap lestari. Bagi masyarakat Sumenep, nyekar menjadi jembatan antara budaya lokal dan ajaran Islam yang berjalan seiring—sebuah warisan yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....