Babat Trunojoyo, Cerita Lama yang Menunggu Dibaca

  • 22 Sep 2026 14:40 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Di antara deretan koleksi yang tersimpan di Perpustakaan Sumenep, ada sebuah naskah lama yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat, yakni Babat Trunojoyo. Naskah tersebut menjadi bagian dari jejak literasi masa lalu yang menyimpan cerita tentang Trunojoyo, sekaligus memperlihatkan bahwa perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku terbitan baru.

Bagi masyarakat yang terbiasa membaca melalui layar telepon seluler, naskah lama mungkin terlihat kurang menarik. Namun, di balik lembaran dan bahasa yang digunakan, tersimpan pengetahuan mengenai sejarah, budaya, serta cara masyarakat pada masa lalu mewariskan cerita. Keberadaan Babat Trunojoyo di Perpustakaan Sumenep menjadi kesempatan untuk kembali mengenalkan kekayaan literasi kepada generasi sekarang.

Salah seorang warga Bluto, Sumenep, Haliah, menilai koleksi seperti Babat Trunojoyo perlu lebih dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, membaca tidak hanya tentang mencari informasi terbaru, tetapi juga memahami cerita dan pengetahuan yang diwariskan dari masa lalu.

tulisan yang ada di dalam buku babat trojoyo menggunakan naskah kuno

“Kadang kita tidak tahu kalau di perpustakaan sendiri ada naskah lama yang menarik. Kalau dikenalkan dengan cara yang lebih sederhana, saya kira anak-anak muda juga akan tertarik untuk membaca dan mengetahui sejarahnya,” ujar Haliah.

Pandangan serupa disampaikan Rahman, penggiat Komunitas Informasi Masyarakat atau KIM Sumenep, yang mendukung kampanye membaca buku dan pengenalan kembali koleksi-koleksi lama kepada masyarakat. Menurutnya, keberadaan naskah seperti Babat Trunojoyo dapat menjadi salah satu bahan untuk membangun kembali kebiasaan membaca, sekaligus mempertemukan masyarakat dengan sumber pengetahuan yang dekat dengan identitas daerah.

“Kampanye membaca jangan hanya mengajak masyarakat membaca buku-buku baru. Koleksi lama seperti Babat Trunojoyo juga perlu diperkenalkan. Dari sana kita bisa membaca sejarah, budaya, dan cara berpikir masyarakat pada masa lalu,” kata Rahman.

Di tengah derasnya informasi digital, membaca naskah lama memang membutuhkan pendekatan yang berbeda. Digitalisasi, pameran, diskusi, maupun konten literasi di media sosial dapat menjadi cara untuk membuat koleksi tersebut lebih mudah dikenal. Dengan demikian, naskah tidak hanya tersimpan sebagai benda bersejarah, tetapi kembali berfungsi sebagai sumber pengetahuan.

Babat Trunojoyo pada akhirnya bukan sekadar cerita lama yang berada di rak perpustakaan. Ia menjadi pengingat bahwa masih banyak pengetahuan yang menunggu untuk ditemukan di ruang-ruang literasi. Dari Sumenep, ajakan membaca pun tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang baru, tetapi bisa dimulai dengan membuka kembali lembaran lama yang selama ini mungkin terlewatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....