Keris Sapukal Sumenep Merambah Pasar Mancanegara

  • 17 Sep 2026 11:57 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Sebilah keris sapukal dengan warangka berwarna putih yang dibalut ukiran kuning tampak memukau. Keris tersebut merupakan karya Omar Novi Ibrohim, pengrajin asal Desa Aeng Baja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang masih mempertahankan keterampilan pembuatan keris secara tradisional.

Warangka keris dibuat dari bahan khusus, termasuk rahang ikan yang diolah dan diukir secara selektif. Bagian tersebut kemudian dipadukan dengan tembaga dan kuningan, sementara pada beberapa karya tertentu juga menggunakan emas. Perpaduan bahan dan ukiran itu membuat setiap warangka memiliki karakter tersendiri.

“Untuk membuat satu keris lengkap dengan warangkanya, biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Kami mengerjakannya secara bertahap dan harus teliti, terutama pada bagian ukiran,” ujar Omar.

Keris sapukal tersebut dibanderol sekitar 12 juta rupiah dan harga masih dapat dinegosiasikan. Menurut Omar, nilai tersebut menyesuaikan bahan serta tingkat kerumitan pengerjaan. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga pernah menjangkau Singapura, Malaysia, dan Sulawesi.

Namun, tiga tahun terakhir menjadi tantangan bagi usaha kerajinan keris yang dijalaninya. Omar menyebut penjualan mengalami penurunan cukup drastis. Jika sebelumnya keris berkelas yang diproduksi dapat terjual hingga sekitar 20 bilah, kini rata-rata hanya sekitar tujuh bilah yang terjual.

“Dulu bisa sampai sekitar 20 keris yang terjual, sekarang paling sekitar tujuh. Jadi memang penjualan dalam tiga tahun terakhir cukup menurun,” katanya.

Desa Aeng Baja Raja berada tidak jauh dari Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan keris di Sumenep. Tradisi pembuatan keris di kawasan tersebut diwariskan secara turun-temurun. Meski belum setenar Aeng Tongtong, para pengrajin di Aeng Baja Raja turut menjaga keberlangsungan kerajinan keris Madura melalui karya yang memadukan keterampilan, ketelitian, dan nilai budaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....