Mitos Tape Singkong yang Sering Dipercaya Masyarakat

  • 31 Jul 2026 16:52 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Tape singkong adalah salah satu makanan fermentasi tradisional Indonesia yang sudah dikenal sejak turun-temurun. Rasanya yang manis, asam, dan sedikit beralkohol membuat tape menjadi camilan favorit di berbagai daerah, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Namun di balik popularitasnya, tape singkong juga diselimuti banyak mitos yang beredar dari generasi ke generasi. Sebagian mitos ini masih dipercaya hingga sekarang, padahal belum tentu benar secara ilmiah. Artikel ini akan mengupas beberapa mitos populer seputar tape singkong beserta fakta di baliknya.

Mitos yang paling melekat dalam tradisi masyarakat, terutama di Jawa, adalah kepercayaan bahwa keberhasilan membuat tape sangat bergantung pada suasana hati orang yang membuatnya. Konon, jika pembuat tape sedang bersedih, marah, atau memiliki "hati yang tidak bersih", maka tape yang dihasilkan akan gagal jadi, entah itu keras, tidak keluar cairan manisnya, atau bahkan membusuk. Kepercayaan serupa juga sering ditemui pada proses fermentasi tradisional lain, seperti pembuatan tempe atau tuak. Secara ilmiah, memang belum ada bukti bahwa emosi seseorang dapat memengaruhi hasil fermentasi secara langsung. Namun, mitos ini kemungkinan besar memiliki penjelasan praktis di baliknya: seseorang yang sedang emosional atau terburu-buru cenderung kurang teliti dalam menjaga kebersihan alat, mengatur takaran ragi, atau memperhatikan suhu penyimpanan selama proses fermentasi. Faktor-faktor teknis inilah yang sebenarnya menentukan berhasil tidaknya tape, bukan suasana hati pembuatnya. Meski demikian, mitos ini tetap menarik karena mengandung pesan tersirat tentang pentingnya ketenangan dan kehati-hatian dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam memasak.

Mitos berikutnya yang paling sering terdengar adalah anggapan bahwa tape singkong bisa membuat orang mabuk seperti minuman keras. Memang benar, proses fermentasi tape menghasilkan sedikit kandungan alkohol akibat kerja ragi yang mengubah gula menjadi etanol. Akan tetapi, kadar alkohol dalam tape singkong biasanya sangat rendah, jauh di bawah minuman beralkohol pada umumnya. Untuk bisa merasakan efek memabukkan, seseorang harus mengonsumsi tape dalam jumlah yang sangat banyak sekaligus, yang justru akan lebih dulu membuat perut tidak nyaman. Jadi, mengonsumsi tape dalam porsi wajar sebagai camilan tidak akan membuat seseorang mabuk.

Mitos lainnya menyebutkan bahwa tape singkong tidak aman dikonsumsi oleh ibu hamil karena dianggap bisa membahayakan janin. Anggapan ini muncul karena kekhawatiran terhadap kandungan alkohol di dalamnya. Namun, karena kadar alkoholnya sangat kecil, banyak ahli gizi menyatakan bahwa tape singkong masih tergolong aman dikonsumsi ibu hamil dalam jumlah wajar. Meski begitu, bagi ibu hamil yang ingin lebih berhati-hati, tidak ada salahnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan sebelum mengonsumsinya.

Mitos lain yang beredar adalah bahwa tape singkong bisa menyebabkan keracunan karena singkong mengandung racun sianida. Memang benar bahwa singkong mentah, terutama jenis singkong pahit, mengandung senyawa glikosida sianogenik yang berpotensi menghasilkan sianida. Namun, proses pengolahan tape melibatkan pengukusan atau perebusan singkong sebelum difermentasi, dan panas ini efektif menguraikan sebagian besar senyawa berbahaya tersebut. Selain itu, proses fermentasi oleh ragi juga turut membantu menurunkan kadar racun yang tersisa, sehingga tape singkong yang diolah dengan benar aman untuk dikonsumsi.

Mitos lain yang cukup unik adalah kepercayaan bahwa tape singkong bisa membantu menurunkan berat badan secara signifikan karena dianggap rendah kalori. Faktanya, proses fermentasi justru mengubah sebagian pati menjadi gula sederhana, sehingga tape singkong memiliki rasa manis alami yang cukup tinggi kalori. Mengonsumsinya secara berlebihan dengan asumsi sebagai makanan diet justru bisa berkontribusi pada penambahan berat badan, bukan penurunan. Seperti makanan lainnya, kunci utamanya tetap terletak pada porsi yang seimbang.

Ada pula mitos yang menyatakan bahwa tape singkong dapat menyembuhkan berbagai penyakit secara instan, mulai dari masalah pencernaan hingga penyakit kronis. Klaim ini tidak sepenuhnya salah, sebab tape singkong memang mengandung probiotik alami hasil fermentasi yang bermanfaat bagi kesehatan saluran pencernaan. Probiotik ini dapat membantu menyeimbangkan bakteri baik di usus. Namun demikian, tape singkong bukanlah obat ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit serius secara instan. Manfaatnya lebih bersifat mendukung kesehatan pencernaan secara umum, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.

Terakhir, ada mitos yang mengatakan bahwa tape singkong yang sudah terlalu lama difermentasi pasti tidak layak konsumsi dan berbahaya bagi tubuh. Sebenarnya, tape yang difermentasi lebih lama memang akan memiliki rasa yang lebih asam dan kandungan alkohol yang sedikit lebih tinggi, tetapi hal ini tidak serta-merta membuatnya berbahaya selama proses fermentasinya berlangsung dalam kondisi bersih dan higienis. Yang perlu diwaspadai justru adalah tape yang sudah ditumbuhi jamur berwarna aneh atau berbau busuk, karena itu menandakan kontaminasi bakteri merugikan, bukan sekadar proses fermentasi alami.

Dari berbagai mitos di atas, dapat disimpulkan bahwa tape singkong sebenarnya adalah makanan fermentasi yang aman dan bermanfaat jika dikonsumsi secara wajar dan diolah dengan cara yang benar. Banyak kekhawatiran yang beredar di masyarakat lebih didasari oleh kesalahpahaman turun-temurun daripada fakta ilmiah yang teruji. Dengan memahami proses pembuatan dan kandungan gizinya, masyarakat dapat lebih bijak dalam menikmati tape singkong tanpa perlu khawatir berlebihan terhadap mitos-mitos yang belum tentu benar. (RIA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....