"Soft Saving", Menabung tanpa Harus Mengorbankan Hidup

  • 27 Jul 2026 10:00 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Menabung sering dianggap sebagai kebiasaan yang menuntut seseorang menahan banyak keinginan demi masa depan. Namun, generasi muda kini mulai mengenal pendekatan yang lebih fleksibel melalui tren soft saving. Konsep ini mengajak seseorang tetap menyisihkan uang, tetapi tetap memberi ruang untuk menikmati hidup, merawat kesehatan mental, mengembangkan diri, dan memenuhi kebutuhan saat ini.

Soft saving bukan berarti berhenti menabung atau menghabiskan seluruh penghasilan. Mengutip Bankrate, pendekatan ini lebih menekankan keseimbangan antara tujuan keuangan jangka panjang dan kualitas hidup saat ini. Berbeda dari pola menabung agresif, soft saving memberi ruang bagi seseorang untuk menyesuaikan jumlah tabungan dengan kondisi keuangannya.

Tren ini banyak dikaitkan dengan Gen Z yang menghadapi biaya hidup, harga rumah, dan ketidakpastian ekonomi. Dalam survei Harvard Kennedy School Institute of Politics yang dikutip Investopedia, 86 persen anak muda berusia 18 hingga 29 tahun menilai stabilitas keuangan penting. Namun, hanya 56 persen yang merasa yakin dapat mencapainya. Kondisi tersebut ikut memengaruhi cara generasi muda memandang masa depan dan mengatur uang.

Dalam praktiknya, soft saving dapat dilakukan dengan menetapkan target tabungan yang realistis. Seseorang tetap menyisihkan uang untuk kebutuhan masa depan, tetapi tidak harus memaksakan target yang membuat seluruh penghasilan habis untuk menabung. Sebagian dana dapat digunakan untuk kebutuhan penting saat ini, seperti kesehatan, pendidikan, hobi, pengalaman, atau pengembangan diri.

Pendekatan ini juga dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Family and Economic Issues pada 2026 menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis dan kondisi ekonomi dapat memengaruhi keputusan rumah tangga dalam menabung. Artinya, keputusan finansial tidak selalu berdiri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan kondisi psikologis dan situasi kehidupan seseorang.

Meski menawarkan fleksibilitas, soft saving tetap membutuhkan batas yang jelas. Menikmati hidup hari ini tidak berarti mengabaikan kebutuhan penting di masa depan. Dana darurat, kebutuhan pokok, kewajiban finansial, dan tujuan jangka panjang tetap perlu diperhitungkan. Jika tidak, gaya hidup yang terlalu berfokus pada kesenangan saat ini dapat membuat seseorang kesulitan menghadapi kebutuhan mendadak.

Soft saving menunjukkan bahwa cara seseorang mengelola uang terus berkembang. Menabung tidak harus selalu terasa seperti pengorbanan besar. Dengan menetapkan prioritas, menyisihkan uang secara konsisten, dan tetap memberi ruang untuk menikmati hidup secara terukur, seseorang dapat membangun keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan rencana masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....