BPBD Sumenep Petakan 76 Desa Rawan Kekeringan Selama Kemarau 2026
- 05 Jul 2026 04:11 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Ancaman bencana kekeringan mulai membayangi wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sedikitnya 76 desa di 19 kecamatan masuk dalam peta wilayah rawan krisis air pada musim kemarau 2026.
Pemetaan tersebut mengacu pada Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 tentang Penetapan Lokasi Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026. Berdasarkan regulasi tersebut, wilayah terdampak dikelompokkan menjadi kategori kering kritis, kering langka, kering langka terbatas, hingga kering langka kritis.
Desa-desa dengan kategori kering kritis dipastikan menjadi prioritas utama penyaluran air bersih karena diperkirakan paling cepat mengalami krisis air. Wilayah ini tersebar di Kecamatan Arjasa, Gayam, Giligenting, Kangayan, Manding, Pasongsongan, Raas, Rubaru, dan Talango. Sementara itu, Kecamatan Pragaan menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki desa dengan kategori kering langka kritis, meliputi Desa Karduluk, Kadurala Timur, Pragaan Laok, Jeddung, dan Larangan Perreng.
Sekretaris BPBD Sumenep, Abd. Kadir menyatakan bahwa desa berstatus kering kritis diperkirakan mulai mengalami kesulitan air bersih sekitar satu bulan setelah musim kemarau berlangsung. Pihaknya kini telah menyiapkan langkah antisipasi penanganan dini agar distribusi bantuan tidak terlambat.
“Sudah ada pemetaan. Biasanya setelah satu bulan musim kemarau, daerah-daerah yang kering kritis mulai membutuhkan suplai air bersih. Itu memang menjadi prioritas yang perlu kita suplai di awal,” ujarnya, Sabtu 4 Juli 2026.
Selain menyiapkan armada distribusi air bersih, BPBD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta Kodim setempat terus mempercepat program pengeboran sumur. Program ini digalakkan sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan di daerah yang selama ini menjadi langganan kekeringan.
Menurut Abd. Kadir, proyek strategis tersebut mulai menunjukkan hasil positif di lapangan. Beberapa desa yang sebelumnya masuk kategori kering kritis kini mengalami peningkatan kondisi sosiologis air sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan tangki air dari pemerintah.
“Ada beberapa daerah yang awalnya kering kritis, sekarang sudah menjadi kering langka dengan bantuan pengeboran yang dilakukan pemerintah, termasuk bersama Kodim. Upaya ini terus kami lakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap suplai air bersih dari pemerintah,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....