Lantana: Kecantikan Liar yang Menawan

  • 28 Jun 2026 16:02 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Lantana adalah genus tumbuhan berbunga dari keluarga Verbenaceae yang berasal dari kawasan tropis Amerika dan Afrika. Di Indonesia, bunga ini dikenal dengan berbagai nama lokal seperti kembang telek, tembelekan, atau saliyara. Meskipun lebih sering tumbuh liar di pinggir jalan dan semak-semak, Lantana telah lama diakui sebagai tanaman hias yang memesona berkat mahkota bunganya yang penuh warna dan kemampuannya berbunga sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Keistimewaan paling mencolok dari Lantana adalah kemampuannya menampilkan lebih dari satu warna dalam satu rangkaian bunga yang disebut umbel. Kuntum-kuntum kecil tersusun rapat membentuk kubah mini, dengan warna di bagian tengah yang berbeda dari tepi luarnya. Seiring waktu, warna kuntum yang baru mekar pun berubah, sehingga satu tangkai dapat memperlihatkan gradasi merah muda, jingga, kuning, hingga putih secara bersamaan. Inilah yang membuat Lantana tampak seperti sebuah galeri warna hidup dalam genggaman tangan.

Dikutip dari berbagai sumber lantana camara pertama kali diperkenalkan ke Eropa pada abad ke-17 sebagai tanaman hias eksotis dari Dunia Baru, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia tropis dan subtropis melalui jalur perdagangan. Kini ia tumbuh liar di lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, India, Australia, dan Afrika Selatan. Tumbuhan ini sangat adaptif — mampu bertahan di tanah miskin hara, lereng berbatu, tepi pantai, hingga hutan sekunder — sehingga mudah dijumpai dari kebun halaman rumah hingga pinggir jalan berdebu.

Bagi kehidupan liar, Lantana adalah sumber pangan yang berharga. Nektarnya yang manis menjadi magnet bagi kupu-kupu, lebah, dan berbagai serangga penyerbuk. Tidak sedikit spesies kupu-kupu yang bergantung pada bunga ini sebagai sumber energi saat bermigrasi. Buah Lantana yang matang — berwarna ungu kehitaman menyerupai beri kecil — juga dikonsumsi oleh burung-burung pemakan buah yang tanpa sadar membantu menyebarkan bijinya ke tempat-tempat baru.

Di balik kecantikannya, Lantana camara telah masuk dalam daftar 100 spesies invasif terburuk di dunia yang disusun oleh IUCN. Di Australia dan beberapa negara Afrika, Lantana membentuk semak belukar padat yang mematikan vegetasi asli dan menghalangi regenerasi hutan. Selain itu, seluruh bagian tanaman kecuali buahnya yang matang mengandung senyawa triterpenoid yang bersifat toksik bagi ternak, terutama ruminansia. Banyak negara telah memberlakukan program pengendalian Lantana secara serius, mulai dari pemberantasan manual hingga penggunaan agen hayati.

Menariknya, berbagai budaya di Asia dan Afrika justru memanfaatkan Lantana sebagai obat tradisional selama berabad-abad. Di India, daun Lantana digunakan sebagai antiseptik topikal untuk mengobati luka ringan dan gigitan serangga. Dalam pengobatan tradisional Afrika Barat, rebusan daun dan batangnya diyakini membantu meredakan demam dan batuk. Penelitian farmakologi modern pun mulai mengkaji kandungan fitokimianya dan menemukan potensi aktivitas antimikroba, antiinflamasi, serta antioksidan, meski penggunaannya tetap harus dilakukan dengan hati-hati.

Bagi para pecinta taman, Lantana adalah pilihan yang hampir bebas masalah. Tanaman ini menyukai sinar matahari penuh minimal enam jam sehari dan cukup toleran terhadap kekeringan setelah berakar dengan baik. Pemupukan ringan setiap dua bulan sekali sudah cukup untuk menjaga pertumbuhannya tetap lebat dan berbunga. Pemangkasan rutin setelah periode berbunga akan merangsang munculnya tunas dan kuntum segar. Untuk menghindari potensi invasif, dianjurkan memilih varietas steril yang tetap menghasilkan bunga cantik tanpa menghasilkan biji yang dapat menyebar ke alam liar.

Melampaui fungsi ekologis dan medisnya, Lantana turut menginspirasi seni dan budaya di berbagai penjuru dunia. Di Brasil — salah satu tanah airnya — bunga ini kerap muncul dalam lukisan botanis klasik abad ke-18 yang dipesan oleh para naturalis Eropa. Di Asia Tenggara, rangkaian bunga Lantana segar kadang digunakan dalam dekorasi upacara adat. Warna-warnanya yang semarak bahkan menjadi inspirasi bagi desainer tekstil dan pembuat keramik yang mencari palet alam yang kaya namun tidak monoton. Lantana, dengan segala kerumitan dan paradoksnya, adalah bunga yang tak pernah sepenuhnya bisa dijinakkan.(RIA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....