Iman kepada Allah Tercermin dari Akhlak dan Ketaatan dalam Kehidupan

  • 07 Jun 2026 07:00 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep - Iman kepada Allah tidak hanya diukur dari pengakuan lisan atau rutinitas ibadah semata. Keimanan juga tercermin melalui sikap, perilaku, dan cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

Ustadz Sama’, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, menjelaskan bahwa indikator keimanan dapat dilihat dari meningkatnya ketaatan kepada Allah serta semakin baiknya hubungan seseorang dengan sesama manusia. Indikator pertama orang yang beriman adalah taqwa kepada Allah swt, yakni menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya meski tidak selalu mudah dilakukan.

“Indikator kedua adalah memiliki rasa malu malu, yakni malu untuk tidak berbuat maksiat. Ada yang bersifat spiritual (nafsani) artinya tidak membuat aurat di depan umum, termasuk tidak berhubungan seksual di depan banyak orang,” katanya saat di Mutiara Pagi RRI, Minggu, 7 Juni 2026.

Selain itu, keimanan yang kuat akan melahirkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat. Cara mensyukuri nikmat, selain dengan cara mengucap Alhamdulillah, juga berterimakasih kepada orang lain.

Menurut Sama’, sikap sabar adalah indikator iman kepada Allah berikutnya yang ditunjukkan dengan keyakinan bahwa seluruh ketentuan hidup berada dalam kuasa Allah dan mengandung hikmah bagi hamba-Nya. Sabar mudah diucapkan namun susah dilalukan, terutama sabar saat diberi ujian dari Allah, padahal itu adalah bentuk sayang Allah kepada ummatnya sesuai kemampuannya.

Kuatnya iman seseorang dapat terlihat dari tumbuhnya kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial. Keimanan yang tertanam dalam hati mendorong seseorang untuk menjaga perilaku dan menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Karena itu, akhlak yang baik sering disebut sebagai buah dari iman yang kokoh.

Dalam ajaran Islam, iman juga dapat bertambah dan berkurang. Keimanan akan meningkat melalui ibadah, zikir, membaca Al-Qur'an, serta melakukan berbagai amal saleh. Sebaliknya, maksiat dan kelalaian dapat melemahkan kualitas iman seseorang.

Diingatkan Sama’, bahwa menjaga keimanan memerlukan usaha yang berkelanjutan. Lingkungan yang baik, pergaulan yang positif, dan kebiasaan mendekatkan diri kepada Allah menjadi faktor penting untuk memperkuat iman di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....