Ceplukan, Buah Liar Kaya Khasiat yang Terlupakan
- 25 Mei 2026 08:34 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep : Di antara rerumputan liar di tepi sawah dan kebun, terdapat sebuah tanaman kecil yang kerap diabaikan namun menyimpan potensi luar biasa bagi kesehatan. Buah ceplukan, atau yang dikenal secara ilmiah sebagai Physalis angulata, adalah tanaman herbal yang kini tumbuh subur di berbagai penjuru Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ciri khasnya yang paling mudah dikenali adalah buah kecil berwarna kuning kehijauan yang terbungkus dalam kelopak seperti lampion kering, berubah warna dari hijau segar menjadi kecokelatan seiring kematangan buah.
Dalam pengobatan tradisional Jawa dan Sunda, ceplukan telah digunakan sejak berabad-abad lalu sebagai obat alami untuk mengatasi demam, batuk, dan gangguan saluran kemih. Para tetua masyarakat desa mengenal tanaman ini jauh sebelum farmasi modern meliriknya. Daunnya sering direbus menjadi teh herbal, sementara buahnya dimakan langsung atau dijadikan ramuan campuran jamu yang diwariskan secara turun-temurun. Di berbagai daerah, tanaman ini memiliki nama lokal yang beragam — ciplukan di Jawa, cecenet di Sunda, hingga keceplokan di beberapa wilayah Kalimantan.
Dalam dua dekade terakhir, komunitas ilmiah internasional mulai memberikan perhatian serius pada buah ceplukan. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa tanaman ini mengandung senyawa physalin dan withanolide — dua kelompok senyawa bioaktif yang menunjukkan aktivitas antitumor, antiinflamasi, dan antiviral yang signifikan dalam uji laboratorium. Temuan ini membuka babak baru dalam eksplorasi obat alami berbasis tanaman lokal yang selama ini tumbuh liar tanpa diperhatikan.
Selain itu, ekstrak daun dan buah ceplukan terbukti memiliki sifat hipoglikemik, yakni kemampuan membantu menurunkan kadar gula darah. Hal ini menjadikannya kandidat potensial sebagai terapi pendamping bagi penderita diabetes tipe 2. Beberapa studi praklinis pada hewan percobaan menunjukkan hasil yang menjanjikan, meski penelitian klinis pada manusia masih terus berjalan dan belum mencapai tahap penggunaan medis formal secara resmi.
Di pasar internasional, kerabat dekat ceplukan lokal yakni Physalis peruviana atau golden berry telah menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi dari Kolombia, Peru, dan Afrika Selatan. Buah ini dijual dengan harga premium di toko-toko makanan kesehatan di Eropa dan Amerika Utara, diolah menjadi selai, teh, suplemen, hingga camilan kering. Fenomena ini seharusnya menjadi cermin bagi Indonesia untuk lebih serius menggarap potensi ceplukan lokal sebagai produk agribisnis unggulan yang berdaya saing global.
Beberapa petani di berbagai daerah mulai membudidayakan ceplukan secara semi-intensif untuk memenuhi permintaan pasar herbal lokal yang terus tumbuh. Namun skala produksinya masih sangat terbatas dan belum terorganisir dengan baik. Dukungan riset pertanian, standardisasi mutu, serta program pemasaran terpadu sangat diperlukan agar komoditas ini bisa naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.
Buah ceplukan yang sudah matang dapat dikonsumsi langsung setelah dibersihkan dari kelopaknya, paling nikmat saat berwarna kuning cerah dan agak lunak. Selain dimakan segar, ceplukan juga bisa dijadikan campuran smoothie, salad buah, atau dimasak menjadi saus asam manis. Meski demikian, ibu hamil dan menyusui disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya secara rutin karena kandungan alkaloidnya, dan kelopak buah yang masih hijau sebaiknya tidak dimakan karena mengandung senyawa solanin yang dapat mengganggu pencernaan.(RIA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....