Kitab KH Ilyas Sarqowi Menggema di Warung Assalam

  • 07 Mei 2026 10:21 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Di tengah hamparan hutan seluas 15 hektar di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, berdiri sebuah tempat sederhana bernama Kebun Assalam. Dikelilingi pepohonan jati, kebun itu menghadirkan suasana teduh dan sunyi, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Namun belakangan, tempat tersebut justru ramai oleh suara diskusi, kajian kitab, dan senyum sumringah para pengunjung.

Kebun Assalam merupakan singkatan dari “Annuqayah Sahabat Alam”. Tempat itu berada di bawah naungan Kopontren Annuqayah Guluk-Guluk dan tidak hanya berfungsi sebagai warung kopi biasa. Di sana, pengunjung dapat berdiskusi, belajar, hingga mengikuti kajian kitab keagamaan dengan suasana terbuka di tengah alam.

Salah satu kegiatan yang rutin digelar tiap bulan ialah kajian kitab Almuktatof Almubarok Fittarghib Wattarhib karya almarhum KH Ilyas Sarqowi, pengasuh Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Kajian tersebut diasuh langsung oleh KH Faizi dan diikuti puluhan peserta dari berbagai kecamatan dan kalangan.

Bagi sebagian peserta, daya tarik kajian tersebut bukan hanya terletak pada isi kitab, tetapi juga cara penyampaiannya yang menenangkan. Pembahasan kitab lebih menitikberatkan pada motivasi beribadah dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia maupun lingkungan sekitar.

“Dalam kitab itu dibahas tentang motivasi ibadah serta menjaga hubungan baik, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada lingkungan,” ujar K. Qudsi Wahid, salah seorang peserta kajian yang juga pengurus Kopontren Annuqayah Guluk-Guluk.

Menurutnya, kitab tersebut memiliki pendekatan yang berbeda dibanding banyak kitab lain. Isi pembahasannya tidak menonjolkan ancaman atau rasa takut, melainkan mengajak umat beribadah dengan penuh kesadaran dan harapan akan kebaikan.

“Kitab ini lebih memotivasi ibadah. Isinya bukan menakut-nakuti dengan neraka, tetapi lebih mengedepankan pahala dan penghargaan,” katanya. Ia mencontohkan salah satu pembahasan tentang seseorang yang duduk menunggu waktu salat. Sejak menunggu itulah, seseorang sudah dicatat memperoleh pahala salat.

Keberadaan kajian kitab di tengah kebun juga disambut baik oleh para pengunjung. Sahirul Alim, salah seorang pelanggan Warung Assalam, mengaku senang karena tempat itu kini semakin hidup. Menurutnya, konsep merawat alam yang dibangun Kebun Assalam terasa semakin nyata dengan adanya ruang belajar dan diskusi keagamaan.

Selain ditanami pohon jati dan jambu mete, kawasan tersebut juga memiliki peternakan kambing etawa. Tidak jarang siswa dan mahasiswa datang untuk belajar di luar kelas sambil mengenal lingkungan sekitar. Di tengah hutan yang sunyi itu, Kebun Assalam perlahan tumbuh menjadi ruang pertemuan antara ilmu, spiritualitas, dan kecintaan terhadap alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....