Asal Usul Lebaran Ketupat, Tradisi Dakwah yang Kini Mengakar di Masyarakat
- 25 Mar 2026 22:15 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Tradisi Lebaran Ketupat yang dirayakan sepekan setelah Idul Fitri ternyata memiliki akar sejarah yang erat dengan proses penyebaran Islam di tanah Jawa. Tradisi ini diyakini berasal dari peran ulama Wali Songo, khususnya yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah.
Lebaran Ketupat biasanya diperingati pada tanggal 8, setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah enam hari. Momentum ini dianggap sebagai penyempurnaan rangkaian ibadah setelah bulan Ramadan.
Dalam perkembangannya, Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol sarat makna. Istilah “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Selain itu, terdapat filosofi “laku papat” yang mencakup Lebaran, Luberan (bersedekah), Leburan (saling memaafkan), dan Laburan (menjaga kesucian diri).
Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga dimaknai sebagai gambaran kesalahan manusia, sementara nasi putih di dalamnya melambangkan hati yang bersih setelah saling memaafkan. Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang introspeksi diri dan mempererat hubungan sosial.
Seiring waktu, tradisi Lebaran Ketupat tidak hanya berkembang di Jawa, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia seperti Madura, Lombok, hingga Kalimantan. Masyarakat merayakannya dengan beragam kegiatan, mulai dari silaturahmi, doa bersama, hingga acara budaya lokal.
Kini, Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga identitas budaya yang terus dilestarikan lintas generasi. Tradisi ini menjadi bukti bagaimana dakwah Islam dapat berpadu dengan kearifan lokal dan tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....