Ramadan di Asta Pengearan Adi Poday

  • 23 Feb 2026 13:40 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Suasana Ramadan di Pulau Sapudi terasa berbeda di kawasan asta Pangeran Adi Poday, Desa Kaloang, Kecamatan Gayam. Meski sebagian peziarah dari luar daerah memilih pulang ke tempat tinggalnya selama bulan puasa, kompleks makam itu tetap hidup. Setiap malam, warga memadatinya untuk melaksanakan salat tarawih, menjadikan lokasi tersebut bukan sekadar tempat ziarah, tetapi juga ruang ibadah bersama.

Tokoh masyarakat setempat, KH Junaidi, menuturkan bahwa tradisi ziarah di makam Pangeran Adi Poday telah berlangsung lama. Ratusan peziarah datang, baik dari Pulau Sapudi maupun luar daerah seperti Situbondo, Surabaya, hingga Banten. Ramadan memang membuat jumlah pendatang berkurang, namun tidak menghilangkan aktivitas spiritual di tempat itu.

“Tradisi ziarah tersebut menjadi bagian dari penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya menjaga nilai sejarah lokal. Walaupun tidak semua bukti tertulis ada, cerita dari orang tua dulu tetap kami jaga sebagai warisan budaya,” ujar KH Junaidi saat Kisah Unik Ramadan (Kurma) Pro 1 RRI, Senin 23 februari 2026.

Biasanya, setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat menggelar haul untuk mengenang Pangeran Adi Poday. Pada momen tersebut, jumlah peziarah meningkat tajam. Para perantau yang pulang kampung turut hadir, membaur dalam do’a dan kebersamaan di kompleks asta.

“Sosok Adi Poday sendiri diyakini sebagai putra dari Panembahan Belingi. Kisah tentang dirinya hidup dalam ingatan kolektif masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun, terutama oleh para sesepuh di pulau ini,” katanya menambahkan.

Dalam sejumlah catatan raja-raja Sumenep, Adi Poday dikenal dengan gelar Pangeran Ario Bribin. Ia tercatat sebagai Raja Sumenep ke-12 yang memerintah pada kurun waktu 1399 hingga 1415, menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah kerajaan di wilayah itu.

Meski jejak tertulis tentang dirinya tidak sepenuhnya lengkap, masyarakat Pulau Sapudi tetap menjaga kisah tersebut sebagai warisan budaya. Bagi warga, Pangeran Adi Poday bukan sekadar figur sejarah, melainkan simbol penghormatan terhadap leluhur yang terus dirawat melalui tradisi, doa, dan kebersamaan lintas generasi,” ujar sesepuh sekaligus juru kunci Asta Adi Poday, KH Junaidi, menutup perbincangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....