Celakanya Orang yang Berwatak "Aladdul Khisom"
- 09 Feb 2026 17:51 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Menurut pendapat Imam Nawawi, aladdul khisom adalah orang yang keras kepala, membangkang dengan kebatilan dan menolak kebenaran. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT sangat murka pada orang yang suka memperselisihkan persoalan dan mau menang sendiri.
Golongan orang-orang yang termasuk dalam aladdul khisom bahkan ditandai di dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 204. Para Ulama tafsir bersepakat bahwa orang yang masuk ke dalam golongan aladdul khisom ini merupakan orang-orang munafik. Mengapa? Karena orang munafik itu di depan kita seolah baik, namun di belakang kita ia sedang mendorong kita masuk ke dalam jurang. Betapa bahaya dan celakanya orang-orang yang tergolong aladdul khisom. Naudzubillahi min dzalik.
Ustad Faishal Rimzani, Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Sumenep, menjelaskan watak aladdul khisom ini pengaruhnya sangat besar dalam hubungan kita dengan Allah SWT. Karena orang dengan sifat aladdul khisom ini selain berwatak keras, ia juga tidak menerima terhadap kebenaran. Sekalipun sebuah kebenaran yang ia anggap itu adalah benar tetapi sejatinya kebenaran yang disampaikan oleh orang lain itu bisa jadi lebih benar. Orang yang berwatak aladdul khisom akan berkelit sekuat tenaga agar kebenaran yang ia yakini bisa diterima oleh semua orang.
Para Ulama tafsir menggambarkan orang yang aladdul khisom itu adalah orang-orang musyrik yang mengingkari kebenaran. Menurut Ustad Faishal, ciri-ciri orang aladdul khisom diantaranya adalah keras kepala. Ciri selanjutnya, memilki kecenderungan membangkang dengan kebatilan. Artinya menolak kebenaran mutlak tetapi menerima kebatilannya. Ciri terakhir, menolak kebenaran dan berusaha membenarkan diri sendiri.
Misalkan kita menyadari, terdapat ciri yang demikian dalam diri kita, Ustad Faishal menyarankan agar kita segera mengenali diri sendiri melalui perbanyak muhasabah. Apakah benar kita ini berwatak keras kepala, mau menang sendiridan bahkan mengabaikan kebenaran yang harusnya diterima. Muhasabah sangat mungkin menjadi jalan bagi kita untuk bisa mengatasi persoalan tersebut.
Agar kita tidak masuk ke dalam golongan orang yang berwatak aladdul khisom, Ustad Faishal Rimzani mengajak kita semua untuk menerima semua perbedaan yang ada. Karena sejatinya perbedaan itu adalah sunnatullah yang mau tidak mau harus kita terima sebagai hamba Allah SWT. Dengan demikian, kita akan merasakan nikmatnya kedamaian dalam kehidupan sebagai muslim terlebih kedamaian berbangsa dan bernegara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....